Sebarkan Ilmu Untuk Indonesia Yang Lebih Maju
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

metodologi penelitian ilmu bahasa dan sosial


BAB I
PENDAHULUAN

1. Pengertian Metode dan Metodologi

    Istilah metode penelitian dan beberapa istilah yang berhampiran dengannya merupakan istilah-istilah kunci dalam literatur metodologi penelitian ilmu bahasa dan sosial. Dalam sebagian literatur ilmu bahasa, pengertian metode seringkali dibedakan dengan teknik (Sudaryanto, 1993: 9; Subroto, 1992: 32) Metode dipahami sebagai cara penelitian yang lebih abstrak, sedangkan teknik dipandang sebagai cara penelitian yang lebih kongkret atau bersifat operasional. Di samping metode dan teknik, istilah metodologi dipakai sebagai acuan terhadap ilmu tentang metode. Berbeda halnya dalam literatur ilmu sosial (seperti sosiologi dan antropologi) (lih. Koentjaraningrat (ed.), 1994), pengertian metode dan teknik nyaris tidak dibedakan. Istilah metode dan teknik diacu untuk satu pengertian yang sama, yaitu cara melakukan penelitian. Bahkan, metodologi dengan metode juga hampir sulit dibedakan; di satu literatur dipakai metodologi penelitian, di literatur lain dipakai metode penelitian.
    Menurut kamus besar bahasa Indonesia metode penelitian adalah cara mencari kebenaran dan asas-asas gejala alam, masyarakat, atau kemanusiaan berdasarkan disiplin ilmu yang bersangkutan. Sedangkan metodologi ialah ilmu tentang metode(Tim penyususun.2005. kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga.Jakarta:Balai Pustaka.)
    Metode berasal dari kata methodos, bahasa latin, sedangkan methodos itu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah. Sedangkan hodhos berarti jalan, cara, arah dalam poengertian yang lebih luas metode dianggap sebagai cara-cara strategi untuk memahami realitas, lengkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Adapun metodologi menurut I Nyoman Kuth Ratna yaitu: berasal dari kata metodhos dan logos yaitu filsafat atau ilmu mengenai metode.(Nyoman Kutha Ratna,2006:34).
Dari sejumlah literatur tersebut, baik ilmu bahasa maupun ilmu sosial, ditarik satu pemahaman bahwa pengertian metode mengacu pada cara penelitian. Dalam kata lain, metode dapat pula dirumuskan sebagai langkah-langkah yang diambil peneliti untuk memecahkan masalah penelitian. Oleh karena itu, sesungguhnya, metode penelitian ini dimulai dari penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Macam-Macam Metode Penelitian
a.    Metode Intuitif.
Metode ini dianggap sebagai dasar manusia dalam upaya memahami unsur-unsur kebudayaan.
b.    Metode Hermeneutika
Metode ini dikaitkan dengan dewa Hermes, dewa Yunani yang menyampaikan pesan ilahi kepada manusia. Medium pesan adalah bahasa. Jadi, penafsiran disampaikan lewat bahasa.
c.    Metode Kualitatif
Metode ini menyajikannya dalam bentuk deskripsi.
d.    Metode Analisis Isi
Terdapat dua analisis yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten ialah: isi yang terkandung dalam dokumen dan naskah.
Sedangkan isi komunikasi ialah pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi.
e.    Metode Formal
Yaitu analisis dengan mempertimbangkan aspek-aspek Formal. Aspek-aspek bentuk yaitu unsur-unsur karya sastra.
f.    Metode Dialektika
Metode ini terdiri dari tesis, antitesis dan sintesis.
g.    Metode Deskriptif Analisis
Yakni dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.

2. Macam-Macam Pendekatan Dalam Penelitian
    Pendekatan ialah cara-cara menghampiri objek, sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan, pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Pendekatan dibagi kedalam beberapa bagian:
a.    Pendekatan Biografis
Penelitian harus mencantumkan biografi, surat-surat, dokumen penting pengarang, foto-foto bahkan wawancara langsung dengan pengarang.
b.    Pendekatan Sosiologis
Pendekatan ini menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu.
c.    Pendekatan Psikologis
Pendekatan ini lebih banyak berhubungan dengan pengarang, karya sastra dan pembaca.
d.    Pendekatan Antropologis
Yakni sebuah ilmu pengetahuan mengenai masyarakat. Yang dibedakan menjadi dua yaitu: Antropologi fisik dan antropologi kebudayaan.
e.    Pendekatan Historis
Pendekatan ini diteliti berdasarkan sejarahnya. Dibedakan dengan sejarah sastra, sastra sejarah dan novel sejarah.
f.    Pendekatan Mitopoik
Dalam pengertian tradisional memiliki kesejajaran denga Fabel dan legenda
g.    Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ini memiliki sejumlah kesamaan dengan Pendekatan biografis.
h.    Pendekatan Mimesis
Pendekatan ini merupakan pendekatan estetis yang paling primitif.
i.    Pendekatan Pragmatis
Pendekatan ini memberikan perhatian utama kepada pembaca.
j.    Pendekatan Objektif
Pendekatan Objektif mengindikasikan perkembangan pikiran manusia sebagai evolusi teori selama lebih kurang 2.500 tahun.

3. Penelitian Menurut Tujuannya
•    Penelitian Murni
    Peneltian untuk memahmi permasalahan secara lebih mendalam atau untuk mengembangkan teori yang sudah ada.
•    Penelitian Terapan
    Penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah.

4. Penelitian Tingkat Eksplanasi
    Penelitian deskriptif
    Penelitian komparatif
    Penelitian asosiatif
    Korelasional
    Kausal
5. Penelitian Jenis dan Analisis Data
    penelitian kuantitatif
    penelitian kualitatif
    penelitian campuran
6. Untuk menilai kualitas penelitian yang baik ada beberapa kriteria:

1.    Memiliki tujuan yang jelas, berdasarkan pada permasalahan tepat.
2.    Menggunakan landasan teori yang tepat dan metode penelitian yang cermat dan teliti.
3.    Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji.
4.    Dapat didukung (diulang) dengan menggunakan riset-riset yang lain, sehingga dapat diuji tingkat validitas dan reliabilitasnya .
5.    Memiliki tingkat ketepatan dan kepercayaan yang tinggi
6.    Bersifat obyektif, artinya kesimpulan yang ditarik harus benar-benar berdasarkan data yang diperoleh dilapangan
7.    Dapat digeneralisasikan, artinya hasil penelitian dapat diterapkan pada lingkup yang lebih luas


7. Permasalahan Penelitian

    masalah penelitian sebagai dasar mengapa penelitian dilakukan
    permasalahan dituangkan dalam latar belakang penelitian
    latar belakang dimulai dari hal yang bersifat umum kemudian mengerucut ke permasalahan yang lebih spesifik

8.Sumber Permasalahan Dalam Penelitian
1.    Bersumber dari kehidupan sehari-hari.
    Adanya penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan
    Terdapat penyimpangan antar rencana dan kenyataan
    Terdapat pengaduan
    Adanya persaingan
2.    Bersumber pada buku atau penelitian sebelumnya
    Untuk penyempurnaan
    Untuk verivikasi
    Untuk pengembangan

9. Permasalahan yang Baik
1.    Bermanfaat
2.    Dapat dilaksanakan
1.    Kemampuan teori dari peneliti
2.    Waktu yang tersedia
3.    Tenaga yang tersedia
4.    Dana yang tersedia
5.    Adanya faktor pendukung
6.    Tersedianya Data
7.    Tersedianya ijin dari pihak yang berwenang
3.    Adanya Faktor Pendukung
1.    Tersedianya Data
2.    Tersedianya ijin dari pihak berwenang
10. Judul Penelitian
Setelah permasalahan diidentifikasikan dengan tepat langkah berikutnya adalah memberikan nama penelitian “Judul Penelitian”
Dua orintasi dalam meberikan judul penelitian:
1.    Orientasi Singkat
  Contoh:
  Analisis Kualitas Pelayanan Jasa Perbankan
2. Berorientasi Jelas
    Jenis Penelitian
    Obyek yang diteliti
    Subyek penelitian
    Lokasi Penelitian
    Waktu Pelaksanaan Penelitian
Contoh:
Analisis Pengaruh Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah pada Bank-Bank Pemerintah di Purwokerto tahun 2005

11. Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan dalam Merumuskan Masalah
1.    Masalah harus dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda
2.    Rumusan masalah hendaknya dapat mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih.
3.    Rumusan masalah hendaknya dinyatakan dalam kalimat tanya

12. Beberapa Kesalahan  yang Terjadi dalam Memilih Permasalahan Penelitian
    Permasalahan penelitian tidak diambil dari akar masalah yang sesungguhnya
    Permasalahan yang akan dipecahkan tidak sesuai dengan kemampuan peneliti baik dalam penguasaan teori, waktu, tenaga dan dana.
    Permasalahan yang akan dipecahkan tidak sesuai dengan faktor-faktor pendukung yang ada.

13. Pembatasan Masalah
    Agar penelitian dapat mengarah ke inti masalah yang sesungguhnya maka diperlukan pembatasan penelitian sehingga penelitian yang dihasilkan menjadi lebih fokus dan tajam
14. Penelitian Empiris
    Penelitian sebelumnya dapat dipergunakan untuk:
1.    Mengetahui kekurangan-kekurangan penelitaian sebelumnya
2.    Mengetahui apa yang telah dihasilkan dari penelitian sebelumnya
3.    Mengetahui perbedaan dengan penelitian sebelumnya

15. Pengertian Hipotesis
    Hipotesis merupakan jawaban sementara yang hendak diuji kebenarannya.
    Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis, penelitian yang bersifat eksploratif dan deskriptif tidak memerlukan hipotesis

16. Berkaitan Dengan Perumusan Masalah
    Apa permasalahan utama sehingga perlu dilakukan penelitian?
    Apakah tujuan dilaksanakannya penelitian ?
    Apakah datanya bisa diperoleh ?
    Apakah kita mempu untuk melakukan penelitian dilihat dari biaya, tenaga, waktu dan latar belakang teori ?
    Apakah dapat memperoleh untuk mendapatkan ijin penelitian?
    Berapa banyak informasi yang sudah kita peroleh ?
    Apakah masih perlu dilakukan studi pendahuluan ?

17. Berkaitan dengan Tinjauan Teoritis
    Teori-teori apa yang dapat mendukung penelitian ?
    Dari mana kita dapat teori-teori pendukung penelitian ?
    Apakah sudah ada penelitian terdahulu yang relevan ?
    Bagaimana bentuk kerangka pemikiran penelitian ?

18. Berkaitan Dengan Perumusan Hipotesis
    Apakah penelitian memerlukan hipotesis ?
    Apa dasar yang digunakan untuk merumuskan hipotesis?
    Bagaimana bentuk hipotesis yang akan kita rumuskan ?

19. Berkaitan Dengan Desain Penelitian
    Bagaimana desain perumusan masalahnya ?
    Bagaimana desain landasan teoritisnya ?
    Bagaimana desain perumusan hipotesisnya?
    Bagaimana skala pengukurannya ?
    Berapa jumlah sampel yang diperlukan ?
    Bagaimana teknik pengambilan sampel ?
    Instrumen apa yang akan digunakan dalam penelitian ?

20. Desain Sampling
Alasan Menggunakan Sampel
1.    Mengurangi kerepotan
2.    Jika populasinya terlalu besar maka akan ada yang terlewati
3.    Dengan penelitian sampel maka akan lebih efesien
4.    Seringkali penelitian populasi dapat bersifat merusak
5.    Adanya bias dalam pengumpulan data
6.    Seringkali tidak mungkin dilakukan penelitian  dengan populasi
- Convenience Sampling
Sampel convenience adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan saja, anggota populasi yang ditemui peneliti dan bersedia menjadi responden di jadikan sampel.

- Purposive Sampling
Merupakan metode penetapan sample dengan berdasarkan pada criteria-kriteria tertentu.

-.Quota Sampling
    Merupakan metode penetapan sampel dengan menentukan quota terlebih dahulu pada masing-masing kelompok, sebelum quata masing-masing kelompok terpenuhi maka peneltian beluam dianggap selesai.
- Snow Ball Sampling
    Adalah teknik pengambilan sampel yang pada mulanya jumlahnya kecil tetapi makin lama makin banyak berhenti sampai informasi yang didapatkan dinilai telah cukup.  Teknik ini baik untuk diterapkan jika calon responden sulit untuk identifikasi.


21. Syarat-syarat data yang baik adalah:
    Data harus Akurat.
    Data harus relevan
    Data harus uptodate

22. Pembagian Data Menurut Cara Memperolehnya
1.    Data Primer
    Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama.
2.    Data Sekunder
    Data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahnya
23. Pembagian Data Menurut Sumbernya
1.    Data Internal
    Data internal adalah data yang berasal dari dalam instansi mengenai kegiatan lembaga dan untuk kepentingan instansi itu sendiri.
2.    Data Ekternal
    Data eksternal adalah data yang berasal dari luar instansi.

24. Data Menurut Sifatnya Dibagi Menjadi Dua Yaitu:
1.  Data Kualitatif
    Adalah data yang berupa pendapan atau judgement sehingga tidak berupa angka akan tetapi berupa kata atau kalimat.
    Contoh:
    Pelayanan rumah sakit Enggal Waras Sangat Baik
    Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Banyumas Tinggi
2. Data Kuantitatif
    Data kualitatif adalah data yang berupa angka atau bilangan
    Contoh:
    Tingkat kepuasan pasien di Rumah sakit Enggal Waras mencapai 92%
    Tingkat pendapatan masyarakat bamyumas mencapai Rp. 800.000/bulan
25. Beberapa Teknik Yang Dilakukan Dalam Penelitian
1.    Teknik Tes
    Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data yang digunakan untuk mengevaluasi yaitu membedakan antara kondisi awal dengan kondisi sesudahnya.
2.    Wawancara
    Wawancara merupakan teknik pengambilan data dimana peneliti langsung berdialog dengan responden untuk menggali informasi dari responden.
3.    Teknik Observasi
    Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan indra jadi tidak hanya dengan pengamatan menggunakan mata saja.  Medengarkan, mencium, mengecap meraba termasuk salah satu bentuk dari observasi. Instrumen yang digunakan dalam observasi adalah panduan pengamatan dan lembar pengamatan.
4.    Teknik Angket ( Kuesioner)
    Merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan untuk mengumpulkan data dengan cara membagi daftar pertanyaan kepada responden agar responden tersebut memberikan jawabannya.
    Kuesioner terbuka
    Dalam kuesioner ini responden diberi kesempatan untuk menjawab sesuai dengan kalimatnya sendiri.
    Bagaimanakah pendapat anda tentang harga barang di supermarket ini
    Kuesioner tertutup
    Dalam kuesioner ini jawaban sudah disediakan oleh peneliti, sehingga responden tinggal memilih saja.
   Bagaimanakah pendapat anda tentang harga barang di supermarket ini ?
 Sangat mahal         Murah
 Mahal         Sangat murah      Cukup
26. Keuntungan Penelitian dengan Menggunakan Kuisioner

1.    Tidak memerlukan hadirnya si peneliti
2.     Dapat dibagikan serentak
3.    Dapat dijawab oleh rensponden sesuai dengan waktu yang ada
4.    Dapat dibuat anomin
5.    Kuesioner dapat dibuat standar

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH METODE PENELITIAN SASTRA DAN BAHASA


A.    Metode, Metodologi, dan Tehnik
Secara etimologi metode berasal dari kata Methodos, bahas Latin, sedangkan Methodos itu sendiri berasal dari akar kata meta dan Hodos. Meta artinya menuju, melalui, mengikuti, dan sesudah, sedangkan hodos artinya jalan, cara, arah. Dalam pengertian yang lebih luas metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahamai reaitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Sebagai alat, sama dengan teori, metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami.
Metode sering dikacaukan penggunaannya dengan metodologi. Yang mana secara etimologi metodologi berasal dari Metodos dan Logos, yaitu filsafat atau ilmu mengenai metode. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totaitas komunitas ilmiah. Prosedur yang dimaksud terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu, menyusun proposal membanguan konsep dan model, merumuskan hipotesis dan permasalahan, mengadakan pengujian teori, menganalisis data, dan akhirnya menarik kesimpulan. Metodologi jelas mengimplikasikan metode, tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode, juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Berbeda dengan metode, metodologi tidak berkaitan dengan tehnik-tehnik penelitian, melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Metode deskripsi, komparasi, structural, dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu, tetapi dasar dan cara pemahamannya, bagai mana prosedur pemahaman tertsebut dibangun jelas berbeda.
Penelitian terhadap ilmu kealaman, yang dalam hal ini telah mngimplikasikan paradigm nomotetis, dimulai dengan menentukan objek secara kongkrit, prosedur penelitian secara pasti, baik melalui penyusunan proposal maupun pemilihan intrumen seperti penggunaan laboratorium, mikroskop, computer dan lain sebagainya. Untuk memperoleh objektivitas, penelitian pada umumnya dilakukan dalam suatu ruangan yang husus, dengan menghindarkan keterlibatan langsung peneliti. Sebaliknya, penelitian objek pada ilmu kemanusiaan yang dalam hal ini juga telah mengimplikasikan paradigm yang berbeda, yaitu paradigm ideografis, justru dilakukan secara alamiyah, ditempat kejadian, dengan melibatkan secara intens peranan subjek peneliti. Dikaitkan dengan paradigm diatas, metodologi memiliki kesaman dalam hal tingkat keumumannya. Perbedaannya, secara definitif metodologi berkaitan dengan metode, sedangkan paradigm merupakan dasar-dasar pemahaman yang menggarisbawahi entitas subjekdalam memandang objek tertentu.
Untuk membedakan metode dengan tehnik sangatlah sulit. Secara defenitif metode dengan tehnik tidak memiliki batas-batas yang jelas, tehnik berasal dari kata tekhnikos bahasa yunani juga berarti alat atau seni menggunakan alat. Oleh karena itu metode sering dikatakan tekhnik. Dibawah ini ada tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik, yaitu sebagai berikut
1.    Dengan cara membedakan tingkat abstraksinya.
2.    Dengan cara memperhatikan factor mana yang lebih luas ruang lingkup permakaiannya.
3.    Dengan cara memperhatikan hubungannya dengan objek.
Secara hirarkis , tingkat abstraksi tertinggi dimiliki oleh teori. Secara berturut-turut diikuti oleh metode dan teknik, sehungga dapat kita pahami, meskipun secara teoritis metode masih bersifat abstrak, tetapi sebagaian cirri-cirinya dapat diidentipikasi secara kongkrit.


Makalah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab

Makalah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab
“klasifikasi bahasa kiasan pada bait-bait yang terdapat dalam qoshidah burdah karangan imam busyairi”


Disusun Oleh


Nama    : Amir Nasrullah Amin
NPM        : 1234567
Prodi        : Pendidikan Keguruan
Semester    : II

JURUSAN SASTRA ARAB
FAKULTAS Ilmu Pendidikan BAhasa Dan Sastra
Universitas Negeri Jakarta
2011/2012


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah
Puisi (Qashidah) merupakan genre sastra yang memiliki daya pengimajian yang tinggi. Segala unsur seni kesastraan mengental dalam puisi. Oleh karena itu puisi menempati posisi yang istimewa, dianggap sebagai bentuk sastra yang paling sastra. Bahasa estetis yang ditampilkan paling padat, sublim liar, dan elok. Membaca puisi merupakan sebuah kenikmatan seni yang khusus, bahkan merupakan puncak kenikmatan seni sastra.
Puisi atau Qashidah Burdah karya Imam Muhammad bin Sa`id Al-busyairi merupakan puisi yang banyak mengandung unsur esteik. Banyaknya bahasa kiasan yang terdapat dalam puisi tersebut menjadi sebuah kesulitan dalam memahaminya. Jika ingin membaca lebih lanjut, maka pembaca dapat menemukan puluhan bahkan ratusan bahasa kiasan.
Puisi atau Qashidah Burdah ini berbentuk bait dan memiliki jumlah bait yang cukup banyak. Namun dalam penelitian ini, peneliti membatasi hanya 7 bait saja yang ditelitinya.
Qashidah Burdah ini dikaji melalui pendekatan struktural semiotik. Pendekatan struktural semiotik difokuskan pada kiasan bahasa yang digunakan dalam Qishidah Burdah tersebut dalam kajian analisisnya.
Qashidah Burdah ini sangat sesuai dikaji secara struktural semiotik karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Qashidah tersebut memiliki ratusan bahasa kiasan yang bernilai sangat estetis. Selain itu, Qashidah ini memang sangat menarik karena Imam Busyairi mampu menggambarkan sosok Nabi Muhammad dengan bahasa-bahasanya yang puitis.

B.    Rumusan Masalah
Sesui dengan latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Bagaimana penggunaan bahasa kiasan sebagai simbol dalam “Qashidah Burdah” karangan Iman Busyairi?
2.    Apa makna simbol dari 7 bait yang dikaji sebagai bagian dari “Qashidah Burdah” karangan Imam Busyairi?

C.    Tujuan dan Kegunaan Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1.    Mendeskripsikan penggunaan bahasa kiasan sebagai simbol dalam “Qashidah Burdah” karangan Imam Busyairi.
2.    Mendeskripsikan makna simbol dari 7 bait yang dikaji sebagai bagian dari “Qashidah Burdah” karangan Imam Busyairi.

D.    Kerangka Berfikir
1)    Strukturalisme Semiotik
Karya sastra merupakan struktur yang kompleks sehingga untuk memahami sebuah karya sastra diperlukan penganalisisan. Penganalisisan tersebut merupakan usaha secara sadar untuk menangkap dan memberi muatan makna kepada teks sastra yang memuat berbagai sistem tanda. Seperti yang dikemukakan oleh Saussure bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna (Nurgiyantoro, 2002: 39). Bahasa tak lain adalah media dalam karya sastra. Karena itu karya sastra merupakan sebuah struktur ketandaan yang bermakna (Kaswadi, 2006: 123). Tidak terkecuali pada teks sastra yang berbentuk puisi, maka untuk pemahaman makna pada puisi menggunakan kajian struktural yang tidak dapat dipisahkan dengann kajian semiotik yang mengkaji tanda-tanda. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (1987: 108) yang mengemukakan bahwa analisis struktural tidak dapat dipisahkan dengan analisis semiotik. Karena semiotik dan strukturalisme adalah prosedur formalisasi dan klasifikasi bersama-sama. Keduanya memahami keseluruhan kultur sebagai sistem komunikasi dan sistem tanda dan berupaya kearah penyingkapan aturan-aturan yang mengikat. Analisis tanda sebagai hasil proses-proses sosial menuju kepada sebuah pembongkaran struktur-struktur dalam yang mengemudikan setiap komunikasi (Stiegler, 2001). Hal ini menandakan bahwa sistem tanda dan konvensinya merupakan jalan dalam pembongkaran makna, tanpa memperhatikan sistem tanda maka struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara keseluruhan.
Munculnya kajian struktural semiotik ini sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem tersendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda (Endraswara, 2003: 64) sehingga dapat dikatakan bahwa kajian semiotik ini merupakan lanjutan dari strukturalisme.
Menurut Hawkes dalam Najid (2003: 42) Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang menekankan pada persepsi struktur dan deskripsi struktur. Jadi, yang menjadi konsep dasar teori strukturalisme adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling berjalinan (Pradopo dkk dalam Jabrohim, 2003: 54). Anggapan teori strukturalisme yang memandang bahwa struktur itu harus lepas dari unsur lain memunculkan adanya kajian semiotik. Karena kajian semiotik juga tidak dapat sepenuhnya lepas dari struktur maka kajian ini akhirnya disebut dengan kajian struktural semiotik.
Semiotik sendiri berasal dari kata Yunani “semeion”, yang berarti tanda. Semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistam tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (van Zoest, 1993: 1). Lebih lanjut Preminger (Pradopo, 2003: 19) semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan sebagainya (Nurgiyantoro, 2002: 40).
Semiotik memiliki dua konsep yang dikemukakan oleh dua tokoh yang berbeda.
1.    Konsep Saussure
Bahasa merupakan sistem tanda yang mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna. Bahasa sebagai sistem tanda tersebut mewakili dua unsur (diadik) yang tak terpisahkan: signifier dan signified, signifiant dan signifie, atau penanda dan petanda.
Wujud penanda dapat berupa bunyi-bunyi ujaran atau huruf-huruf tulisan, sedangkan petanda adalah unsur konseptual, gagasan, atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2002: 43).
Penanda dan petanda merupakan konsep Saussure yang terpenting, sedangkan konsep Saussure yang lain menurut Ratna (2004: 99) adalah:
•    Parole dan Langue
Perbedaan antara ekspresi kebahasaan (parole, ppeech, utterance) dan sistem pembedaan di antara tanda-tanda, sistem yang digunakan oleh semua orang (langue, language). Parole bersifat konkret yang kemudian membentuk sistem bahasa yang bersifat abstrak yaitu langue.
•    Paradigmatik dan Sintagmatik
Hubungan sintagmatik bersifat linier, sedangkan hubungan paradigmatik merupakan hubungan makna dan perlambangan, hubungan asosiatif, pertautan makna, antara unsur yang hadir dengan yang tidak hadir. Menurut Nurgiyantoro (2002: 47) kajian paradigmatik berupa konotasi, asosiasi-asosiasi yang muncul dalam pikiran pembaca, dikaitkan dengan teori fungsi puitik. Jadi, kata-kata yang mengandung unsur kesinoniman (hubungan paradigmatik) – maupun kesejajaran sintaksis – hubungan linier, hubungan sintagmatik – bentuk yang dipilih dalam puisi tersebut adalah bentuk yang paling tepat.
Pilihan bahasa yang berunsur puitik yang berupa kata-kata (paradigmatik), biasanya berkaitan dengan ketepatan unsur-unsur bunyi (asosiasi), aliterasi, asonansi, rima, ketepatan bentuk dan juga makna (Nurgiyantoro, 2002: 49).
•    Diakroni dan Sinkroni
Diakronis mengkaji bahasa dalam perkembangan sejarah, dari waktu ke waktu, studi tentang evolusi bahasa, studi mengenai elemen-elemen individual pada waktu yang berbeda. Sedangkan sinkroni mengkaji bahasa pada masa tertentu, hubungan elemen-elemen bahasa yang saling berdampingan.
2.    Konsep Peirce
Peirce (Ratna, 2004: 101) mengemukakan bahwa tanda memiliki tiga sisi/triadik:
a.    Representamen, ground, tanda itu sendiri. Hubungan tanda dengan ground menurut van Zoest (1993: 18-19) adalah:
1.    Qualisigns
Tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Contoh: sifat ‘merah’ dapat digunakan sebagai tanda, bagi kaum sosialisme merah dapat berarti cinta (memberi mawar merah pada seseorang), bagi perasaan dapat berarti menunjukkan sesuatu, dan sebagainya. Namun warna itu harus memeroleh bentuk, misal pada bendera, pada mawar, pada papan lalu lintas, dan sebagainya.
2.    Sinsigns
Sinsigns ialah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan. Sinsigns dapat berbentuk sebuah jeritan yang memberi arti kesakitan, keheranan, atau kegembiraan. Kita dapat mengenali orang lain dari dehemnya, langkah kakinya, tertawanya, nada dasar dalam suaranya, dan lain-lain.
3.    Legisigns
Legisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Misalnya: ‘mengangguk’ pertanda ya, mengerutkan alis pertanda bingung.
b.    Objek (designatum, denotatum, referent) yaitu apa yang diacu. Hubungan antara tanda dengan denotatum, yaitu:
1.    Ikon
Ikon adalah hubungan tanda dan objek karena serupa. Ikon dibagi tiga macam:
o    Ikon topografis, berdasarkan persamaan tata ruang
o    Ikon diagramatis, berdasarkan persamaan struktur
o    Ikon metaforis, berdasarkan persamaan dua kenyataan yang didenotasikan
Contoh ikon: gambar kuda sebagai penanda yang menandai kuda (petanda).
2.    Indeks
Indeks adalah hubungan tanda dan objek karena sebab akibat. Misal: asap merupakan tanda adanya api.
3.    Simbol
Simbol adalah hubungan tanda dan objek karena adanya kesepakatan, tidak bersifat alamiah. Misal: lampu merah pertanda berhenti.
c.    Interpretant, tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima. Hubungan antara tanda dan interpretan oleh Peirce dalm van Zoest (1993: 29) dibagi menjadi tiga macam:
1.    Rheme, tanda sebagai kemungkinan: konsep
Contoh: “Rien adalah X”. X merupakan tanda yang dapat diisi dengan ‘baik’ atau ‘cerdas’, tanda itu diberikan denotataum dan dapat diinterpretasikan.
2.    Decisigns, dicent signs, tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif.
Contoh: “Rien manis”, sebagai kalimat dalam keseluruhan merupakan decisigns.
3.    Argument, tanda sebagai nalar: proposisi.

2). Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan adalah pemberian makna lain dari suatu ungkapan, atau memisalkan sesuatu untuk menyatakan sesuatu yang lain (Semi, 1986: 50).
Bahasa kiasan dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain:
(1) Metafora
Metafora membandingkan antara objek yang memiliki titik-titik kesamaan, seperti perbandingan, hanya tidak menggunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya (Pradopo, 1987: 66; Siswantoro, 2002: 27).
(2) Personifikasi
Personifikasi adalah pelukisan benda atau objek tak bernyawa atau bukan manusia (inanimate) baik yang kasat mata atau abstrak yang diperlukan seolah-olah sebagai manusia (Siswantoro, 2002: 29)
(3) Metonimia
Metonimia berupa penggunaan sebuah atribut/objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut (Altenbernd dalam Pradopo, 2002: 77)
(4) Hiperbola
Hiperbola adalah suatru perbandingan atau perlambangan yang dilebih-lebihkan atau dibesar-besarkan (Semi, 1986: 51)
(5) Simile
Simile merupakan bahasa kiasan yang bersifat eksplisit, yakni secar langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain (Keraf dalam Kaswadi, 2006: 128)
(6) Alegori
Alegori yaitu pemakaian beberapa kiasan secara beruntun. Semua sifat yang ada pada benda itu dikiaskan (Semi, 1986: 51), dan sebagainya.

E.    Metode dan langkah-langkah Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif dapat dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis (). Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Memberikan gambaran tentang landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini
2.    Mengumpulkan simbol yang mengklasifikasikannya
3.    Menganalisis simbol dengan menggunakan teori semiotik pada “Qoshidah Burdah”
4.    Membuat suatu simpulan atas hasil penelitian yang telah dilakukan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulisan-tulisan yang berhubungan dengan objek yang dibahas, jadi penelitian ini ebrsifat literatur murni. Adapun sumber data ini terbagi kedalam dua bagian, yaitu:
1.    Sumber data primer
a.    Ontologi “Qoshidah Burdah”
b.    Buku-buku tentang teori semiotik

2.    Sumber data skunder
a.    Buku-buku tentang sastra
b.    Artikel-artikel tentang semiotik dan sastra.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Klasifikasi Bahasa Kiasan Pada Bait-Bait Yang Terdapat Dalam Qoshidah Burdah Karangan Imam Busyairi
Berikut akan disajikan 7 bait bagian dari  Qoshidah burdah. Yang mana Imam Busyairi mengungkapkan masa kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. lewat bahasanya yang puitis. Tujuh bait tersebut adalah sebagai berikut:

ابان مولده عن طيب عنصره    يا طيب مبتدإ منه ومختتم
يوم  تفرس  فيه  الفرس انهم    قد انذروا بحلول البؤس و النقم
وبات ايوان كسرى وهو منصدع    كشمل اصحاب كسرى غير ملتئم
والنار خامدة الانفس من اسف    عليه والنهر سامى العين من سدم
وساء ساوة ان غاضت بحيرتها   ورد واردها بالغيظ حين ظمي
كأن  بالنار ما بالماء من بلل   حزنا و بالماء ما بالنار من صرم
و الجن تهتف والأنوار ساطعة   والحق يظهر من معنى ومن كلم


Kelahiran Nabi s.a.w. menerangkan kemurnian asal kejadian beliau. Oh betapa sucinya kejadian beliau dan betapa akhir keturunan beliau (s.a.w).

Hari kelahiran Nabi s.a.w yaitu pada hari dikala orang-orang Persi menyangka dengan kuat bahwa dihari itu dirinya akan menerima siksa dan bahaya.

Semalam suntuk Iwan Kirsa telah retak; seperti keadaan bala tentara raja Kisra yang tiada bisa utuh kembali.

Api itu padam sebab resah, karena Iwan runtuh. Sedangkan sungai kering sumber airnya sebab sedih.

Dan menyusahkan kota “sawah” sebab sungainya kering; hingga orang yang mencari air ditolak dengan keadaan marah.

Seakan-akan api itu basah seperti air karena sedih; demikian pula seakan-akan air itu menyala/ berasap seperti halnya api.

Jin-jin bersuara, sinar-sinar bercahaya, barang yang hak (benar) kelihatan dari makna dan dari perkataan-perkataan.

Pada bait pertama, Kelahiran Nabi s.a.w. telah mengungkapkan (menerangkan) akan munculnya Nabi terakhir sesudahnya (kemurnian asal kejadian beliau). Oh.. betapa sucinya waktu dimana Nabi Muhammad dilahirkan (kejadian beliau) dan betapa agungnya beliau karena dilahirkan sebagai Nabi terakhir, yakni terakhir dari silsilah kenabian (keturunan beliau).
Pada bait ini Imam Busyairi mengungkapkan sebuah kejadian penting dan bersejarah bagi umat Islam, yakni waktu dimana Nabi Muhammad s.a.w. akan dilahirkan. Kata “Oh..” atau “Yâ” pada bait di atas menunjukan ekspresi Imam Busyairi tatkala beliau menggambarkan keagungan hari kelahiran Nabi Muhammad. Prase “Sucinya keturunan beliau”  ini adalah sebuah simbol bahwa nasab beliau adalah nasab yang tinggi dan baik.
Pada bait ini Imam Busyairi menggunakan bahasa kiasan metafora yakni pada kata “sucinya akhir keturunan beliau”.
Pada bait kedua, Hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. yaitu hari dimana orang-orang Kafir dan musyrik (orang-orang Persi) menyangka mereka akan di timpa musibah dan bahaya yang amat dahsyat. Hari kelahiran Nabi adalah hari dimana orang-orang sudah jauh dari Allah S.w.t. dan ajaran agama. Mereka melakukan keruksakan di muka bumi dan menyekutukan Allah.
Pada bait ini Imam Busyairi mengungkapkan keadaan masyarakat pada saat atau hari di mana Nabi Muhammad akan dilahirkan. Kejadian-kejadain yang terjadi pada saat itu berada di luar jangkauan pemikiran mereka (orang-orang Persi). Orang Persi mendapat firasat bahwa dengan kelahiran Nabi s.a.w. itu mereka menyangka akan mendapat bahaya dan siksa yang amat sangat besar.
Nabi besar Muhammad lahir pada hari senin menjelang subuh tanggal 12-Maulud-Tahun Gajah. Tahun itu disebut tahun Gajah sebab pada tahun itu raja Abrahah dengan bala tentara yang menunggangi Gajah bermaksud hendak merusak Ka`bah. Tetapi mereka dihancurkan terlebih dahulu oleh Allah sebelum maksudnya tercapai.
Pada bait ini Imam Busyairi menggunakan istilah “Orang-orang Persi” sebagai bahasa kiasan.
Pada bait ketiga, Tengah malam (Semalam suntuk) rumah depan atau pendopo (Iwan Kirsa) Raja Kirsa yang kokoh dan kuat hancur lebur.  Seperti Raja Abrahah dan balatentaranya yang yang dihancurkan oleh Allah dan tidak bisa kembali seperti semula (terntara raja Kisra yang tiada bisa utuh kembali).
Pada bait ini Imam Busyairi menggambarkan keadaan situasi pada saat akan lahirnya Nabi agung Muhammad. Sepajang malam pada hari kelahiran Nabi s.a.w., terjadilah keajaiban-keajaiban. Diantaranya adalah Iwan (rumah depan atau pendopo) raja Kisra hancur, padahal bangunannya itu sangat kokoh dan kuat. Malah bukan Iwan saja yang hancur, tapi prajurit-prajuritnya dan pembantu raja itu juga sama hancur dan berantakan. Bukan hanya pecah untuk sementara waktu saja, tapi hancur untuk selamanya yang tak mungkin bisa utuh kembali. Bahkan diceritakan di dalam Iwan itu pecahlah 14 pot bunga.  Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan dengan meletakkan kedua tangannya di bumi dan kepalanya diangkat ke atas memandang kearah langit.   
Kedua prase yang ditulis miring di atas merupakan dua simbol pada saat Nabi Muhammad dilahirkan. Bahasa kiasan yang digunakan adalah metafora yaitu pada kata “Iwan Kirsa”.
Pada bait keempat, Api (yang menjadi sesembahan orang-orang Majusi Persia) seketika padam karena rasa hormatnya terhadap kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.(sebab  resah) yang ditandai dengan runtuhnya Iwan Kirsa. Sedangkan sungai sumber  airnya kering sebab merasa kasihan akan kelakuan orang-orang Persi (sebab sedih).
Pada bait ini dijelaskan sebuah kejadian yang luar biasa dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad s.a.w., yaitu ditandai dengan padamnya api dan keringnya sungai. Api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi Persia, spontan menjadi padam. Api tersebut masih hidup tapi tiada berasap. Padahal selama 1000 (seribu) tahun api itu belum pernah padam. Sungai yang bernama “Furot” yang sangat besar biasanya semua penduduk negara Persia mengambil air dari sungai itu, terpaksa sumbernya kering seketika. Semua itu karena resah dan menyedihkan hancurnya Iwan Kirsa, dan karena hormat kepada kelahiran pemimpin umat yaitu Nabi Muhammad s.a.w.
Prase api padam sebab resah dan prase sungai kering sebab sedih merupakan bahasa kiasan.
Pada bait kelima, Dengan keringnya sungai tersebut dapat menyusahkan penduduk yang tinggal di kota “Sawah”. Orang-orang yang mencari air merasa kecewa sebab tidak bisa mendapatkan air untuk kebutuhan hidupnya (ditolak dengan keadaan marah).
Pada hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w., selain Iwan Kirsa hancur, juga negar Sawah menjadi susah; sebab danaunya yang tiap hari memberi manfaat besar kepada rakyat negara Sawah sepontan kering tiada berair sama sekali. Orang-orang yang datang untuk mengambil air minum, semuanya kecewa sebab tidak bisa mendapatkan air untuk kebutuhan hidupnya. Sebagai gambaran mengenai penjelasan pada bait ini adalah sebagai berikut:
a.    “Sawah” adalah suatu nama kota yang besar di wilayah Persia.
b.    “Bukhairah” yaitu danau atau sungai besar y6ang terdapat di dekat kota Sawah.
c.    “Bukhairah/danau” ini menjadi kebanggaan bagi negara Persia. Disamping airnya baik untuk dikonsumsi, juga bisa digunakan untuk hubungan lalu-lintas dengan perahu-perahu yang menghubungkan antar daerah di negara itu. Ada pun panjang Bukhairah itu kurang lebih 15 kilometer, sedang lebarnya kurang lebih 9 kilometer.
   
Pada bait ini, Imam Busyairi menggunakan bahasa kiasan Metafora yaitu pada prase “ditolak dalam keadaan marah”.
Pada bait keenam, Seakan-akan api itu menjadi basah seperti air. Api yang biasanya berasap tebal itu seketika menjadi dingin (seperti air karena sedih). Demikian pula air itu menjadi berasap seakan-akan ada api yang menguapkannya. Semua iotu karena kesedihan yang amat sangat (seakan-akan air itu menyala seperti halnya pi).
Pada bait ini Imam Busyairi mengungkapkan keadaan pada saat Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan dengan perumpamaan yang begitu puitis. Di mana Api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi seketika padam. Api yang biasanya berasap tebal itu seketika menjadi dingin sekali dan mengandung air. Demikian pula air sungai yang biasa besar sumbernya dan banyak airnya seketika kering seakan-akan ada apinya yang berasap tebal. Semuanya itu karena kesedihan yang begitu amat sangat.
Pada bait ini, Imam Busyairi menggunakan bahasa kiasan Pengandaian, yaitu ditandai dengan kata “seakan-akan”.  
Pada bait ketujuh, Saat hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w., Jin-jin membacakan shalawat (Jin bersuara), segala jenis cahaya bershalawat (sinar-sinar bercahaya). Kebenaran akan lahirnya Nabi akhir jaman terlihat dan sudah sijelaskan dalam kitab-kitab terdahulu (kelihatan dari makna) dan sudah didiskusikan oleh para pendea dan pasteur (dan dari perkataan-perkataan).
Pada bait ini, Imam Busyairi menjelaskan bahwa di hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. semua Jin bersuara membacakan Shalawat, cahaya-cahaya yang sangat terang semuanya bersinar, juga kebetulan tanda-tanda kenabian beliau terus terlihat pula dengan terang dari makna atau arti yang terkandung dalam kitab-kitab suci dan juga dari perkataan-perkataan para pendeta dan pasteur.
Pada bait ini bahasa kiasan yang digunakan adalah bahasa kiasan Metafora. Yaitu terdapat pada kata


B.    Pemaknaan Simbol Yang Terdapat Dalam 7 Bait Qashidah Burdah Karangan Imam Busyairi
Pada paraphrase di atas, terdapat beberapa simbol di antaranya adalah sebagai berikut: prase sucinya akhir keturunan beliau, runtuhnya Iwan Kirsa, pecahnya 14 pot bunga, prase meletakkan kedua tangannya di bumi dan kepalanya diangkat ke atas memandang kearah langit, dan  huruf “Mim” setiap akhir bait pada Qoshidah Burdah karangan Imam Busyairi .
Makna dari simbol-simbol di atas akan dipaparkan sesuai dengan teori Perdinand de Sausure, yaitu adanya Signifie (petanda) dan Signifiant (penanda). Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a.    “Sucinya akhir keturunan beliau” adalah sebuah simbol yang menyimboli keturunan Nabi Muhammad s.a.w., yaitu menunjukan bahwa nasab Nabi Muhammad itu adalah nasab yang tinggi dan baik. Awal permulaan beliau adalah Nabi Adam a.s, akhir nasab beliau pun tinggi dan baik pula. Yaitu sayyid Abdullah Ayah beliau Nabi Muhammad s.a.w., yang merupakan keturunan pembesar-pembesar Arab. Jadi yang menjadi petanda atau Signifienya adalah sucinya akhir keturunan beliau dan yang menjadi penanda atau Signifiantnya adalah awal permulaan nasab Nabi Muhammad dan akhir nasab beliau adalah tinggi derajatnya dan baik pula akhlaknya.
b.    “Runtuhnya Iwan Kirsa” adalah sebuah simbol yang menyimboli runtuhnya pemerintahan kaum Musyrikin yang dipimpin oleh Raja Kirsa atau Raja Persi sebagai simbol akan datangnya kebenaran, yaitu lahirnya Nabi terakhir Muhammad s.a.w.
Jadi yang menjadi signifienya adalah runtuhnya Iwan Kirsa, dan yang menjadi signifiantnya adalah runtuhnya kekuasaan pemerintahan Raja Persi.
c.    “Pecahnya 14 pot bungan” adalah sebagai simbol yang menyimboli akan runtuhnya empat belas (14) kerajaan yang dipimpin oleh raja-raja yang menyekutukan Allah. Jadi yang menjadi signifienya adalah pecahnya 14 pot dan yang menjadi signifiantnya adalah runtuhnya 14 kerajaan.
d.    Pada masa lahirnya Nabi Muhammad, beliau “meletakkan kedua tangannya di bumi dan kepalanya diangkat ke atas memandang kearah langit” ini adalah sebagai simbol yang menyimboli keluhuran derajat dan pangkat beliau. Sebab beliau akan menjadi pemimpin umat yang mengalahkan segala keluhuran para pemimpin dunia. Yang menjadi signifienya adalah prase “meletakkan kedua tangannya di bumi dan kepalanya diangkat ke atas memandang kearah langit” dan yang menjadi signifiantnya adalah keluhuran derajat dan pangkat beliau (Muhammad s.a.w.).
e.    Pada akhir setiap bait dalam Qashidah Burdah itu selalu di akhiri dengan huruf “Mim”. Hal  ini menunjukan bahwa Imam Busyairi begitu mengagungkan Nabi Muhammad s.a.w. sebab nama beliau diawali oleh huruf Mim. Jadi yang menjadi signifie adalah huruf “Mim” pada setiap bait Qashidah Burdah dan yang menjadi signifiantnya adalah Nabi Muhammad s.a.w.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Ditemukan penggunaan bahasa kiasan pada setiap bait dalam Qashidah Burdah. Diantara bahasa kiasan tersebur adalah sebagai berikut:
a.    Lima bait dari tujuh bait di atas menggunakan bahasa kiasan metafora.
b.    Satu bait menggunakan bahasa kiasan hiperbola.
c.    Satu bait menggunakan bahasa kiasan pengandaian.

2.    Pada tujuh bait di atas ditemukan beberapa simbol yang menyimbolkan masa kelahiran Nabi Muhammad s.a.w., yaitu berbentuk paraphrase. Pemaknaan simbol paraphrase sebagai berikut: “Sucinya akhir keturunan beliau” adalah sebuah simbol yang menyimboli keturunan Nabi Muhammad s.a.w., yaitu menunjukan bahwa nasab Nabi Muhammad itu adalah nasab yang tinggi dan baik. “Runtuhnya Iwan Kirsa” adalah sebuah simbol yang menyimboli runtuhnya pemerintahan kaum Musyrikin yang dipimpin oleh Raja Kirsa atau Raja Persi sebagai simbol akan datangnya kebenaran, yaitu lahirnya Nabi terakhir Muhammad s.a.w. “Pecahnya 14 pot bungan” adalah sebagai simbol yang menyimboli akan runtuhnya empat belas (14) kerajaan yang dipimpin oleh raja-raja yang menyekutukan Allah. “meletakkan kedua tangannya di bumi dan kepalanya diangkat ke atas memandang kearah langit” ini adalah sebagai simbol yang menyimboli keluhuran derajat dan pangkat beliau. Sebab beliau akan menjadi pemimpin umat yang mengalahkan segala keluhuran para pemimpin dunia. Pada akhir setiap bait dalam Qashidah Burdah itu selalu di akhiri dengan huruf “Mim”. Hal  ini menunjukan bahwa Imam Busyairi begitu mengagungkan Nabi Muhammad s.a.w. sebab nama beliau diawali oleh huruf Mim.

B.    Saran
Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan satu metode penelitian, yaitu metode struktur semiotik. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan peneliti. Sehingga hasil dari penelitiannya tidak begitu memuaskan.
Sebagai saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti dapat menggunakan beberapa metode sehingga hasil penelitiannya memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Mudjab Mahali. Mengenal Qashidah Burdah. Bandung: PT.Al-Ma`arif.                    1996.
Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Press. 1992.
Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2005.
A. Teew. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Kiblat Buku Utama. 2003.
Akhmad Muzaki. Kesusastraan Arab Pengantar Teori Terapan. Yogyakarta: Ar-Ruz. 2006.
Verhaar, J.W.M.  Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 2006.
Ratna, kutha, Nyoman,I. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.
Artikel-Artikel : Wikimedia. Artikel   Perubahan Makna Kata Serapan Dari Bahasa Arab (Oleh: Sakholid Nasution)
Yasraf Amir Piliang, 2003, Hipersemiotika (Tapsir Cultural Studies Atas Matinya Makna), Bandung: Jalasutra

Analisis puisi - Karsono H Saputra dalam ontologi puisi

Analisis puisi   
Karya    :  Karsono H Saputra dalam ontologi puisi “Purnama di atas Cakrawala”

BINGKAI WAKTU

waktu
terus berlalu
saksi segala yang terjadi
yang tumbuh yang luhur
yang lahir yang berakhir
yang bahagia yang duka
yang kasih yang tersisih
yang bercinta yang merana
yang merdeka yang terpenjara
yang
terbebas
dari bingkai waktu
cuma dia yang tanpa awal tanpa akhir



Puisi ini mengungkapkan seluruh yang tercipta di dunia ini tidak ada yang tidak terbebas dari waktu. Semua ciptaan pasti ada batas waktu. “terbebas dari bingkai waktu” bukan berarti tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi manusia khususnya terus diikuti oleh waktu yang terus menerus berlangsung. Dalam puisi ini juga diungkapkan Tuhan sebagai objek yang tidak disebutkan dalam puisi inilah yang tidak memiliki ruang dan waktu, batas waktu dan kapan berawan dan berakhir.

Definisi, Pengertian Dan Sejarah Sastra

Definisi-definisi Sederhana Tentang Sastra
  • Sastra adalah imajinasisasi sesuatu yang dilihat dari sisi objektif dan subjektif yang mana dapat diakui kebenarannya namun tidak bersifat mutlak.
  • Sastra adalah implikasi dari perpaduan perasaan seseorang dengan bermediakan bahasa serta tersusun dalam sebuah karya
  • Sastra adalah respon dari gejala-gejala realitas yang menimbulkan reaksi dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat halusinasi sehingga dapat menstabilkan gejala-gejala tersebut.
  • Sastra adalah gerakan pikiran seseorang untuk merelasikan kehidupan nyata dengan kehidupan khayali dari rangsangan-rangsangan yang ada di sekitarnya.
  • Sastra adalah garis kebijakan sebagai refleksi dari kehidupan yang bertentangan dengan pikirannya.
  • Sastra adalah salah satu struktur kehidupan dalam beberapa organ sehingga menciptakan simbiosis mutualisme dalam organisme yang lebih kompleks.
  • Sastra adalah warna hidup dari kepribadian seseorang yang memiliki ketenangan dan ataupun guncangan jiwa melalui bahasa yang sederhana.
  • Sastra adalah pengungkapan kehidupan dan membuatnya lebih berbeda dengan nuansa hati yang lebih mendalam.
  • Sastra adalah pertemuan antara ion positif dan ion negatif seseorang yang dapat menghasilkan energi dan kemudian melahirkan tanggapan yang memberikan nilai baik ataupun buruk.
  • Sastra adalah gambar imitasi dari kehidupan yang nyata melalui alur pikiran seorang sastrawan ataupun bukan sastrawan sebagai rasa keikutsertaannya dalam menanggapi kehidupan yang ada.
  •  Sastra merupakan sebuah istilah yang tidak mudah untuk didefinisikan sekaligus memiliki definisi yang beragam, hal tersebut terjadi mengingat sastra dipandang sebagai bentuk berkesenian, sedangkan seni menurut Titus, Smith, dan Nolan memiliki fungsi sebagai media ekspresi, dan setiap kegiatan berkesenian adalah berupa kegiatan ekspresi kreatif dan setiap karya seni merupakan bentuk yang baru yang unik dan orisinil, dengan demikian maka pemahaman setiap individu terhadap sastra sebagai manifestasi dari hasrat berkesenian akan berbeda-beda tergantung dari pengalaman, penghayatan dan pengekspresianya terhadap karya sastra.
  •     Sastra merupakan ekspresi kreatif untuk menuangkan ide, gagasan,ataupun perasaan seseorang dari apa yang dialaminya dimana ekspresi kreatif tersebut akan  senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada satu sisi sastra merupakan bentuk refleksi sikap seseorang terhadap gejala yang muncul dari lingkungan alam sekitarnya yang dituangkan dalam bentuk kesenian, disisi lain sastra juga menjadi bentuk hiburan yang tiada lain merupakan sebuah kebutuhan untuk memenuhi kepuasan emosi.
  • Sastra dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata sas yang berarti mengarahkan , memberi petunjuk atau instruksi, sedang tra berarti alat atau sarana (Teeuw, 1984: 23). Padahal dalam pengertian sekarang (bahasa Melayu), sastra banyak diartikan sebagai tulisan. Penger¬tian ini kemudian ditambah dengan kata su yang berarti indah atau baik. Jadilah susastra yang bermakna tulisan yang indah.
Kata sastra secara etimologi dalam dunia arab dikenal dengan istilah al-adab. Kata al-adab pada masa pra Islam (jahiliyah) mengandung pengertian etika, moral,, (al-khalq dan al-mahdab), prilaku yang baik (al-thabu’al-qourm) dan interaksi sosial yang baik antara sesama manusia (almu’amalah al-karimah li al-nas), Ahmad Badawi (Rohanda W.S, Model Penelitian Sastra Interdisiplin, Adabi Press: Bandung; 2005, hal 35).
Pengertian kata adab itu sendiri telah mengakui perkembangan, sesuai dengan perkembengan yang diakui bangsa Arab, sejak mereka hidup bersahabat sampai kepada fase kemajuan dan kebudayaan. (A. Hanafi, Segi-Segi Kesusastraan Pada Kisah-Kisah Al-Qur’an, Pustaka Al-Husna: Jakarta; 1984, hal 7.)
Pengertian sastra yang didasarkan pada makna kata di atas, tentu tidak dapat menggambarkan definisi sastra secara keselu¬ruhan. Hal tersebut dapat dibandingkan dengan makna sastra yang terdapat dalam bahasa-bahasa Barat. Kerancuan mak¬na pun masih melingkupi makna sastra tersebut. Dalam bahasa Inggris misalnya dikenal istilah literature, Perancis litterature, Jer¬man literatur, dan Belanda letterkunde. Secara etimologis, kata-¬kata tersebut berasal dari bahasa Latin yaitu litterature yang me¬rupakan terjemahan dari kata grammatika yang mengandung makna tata bahasa dan puisi. Namun kenyataannya, dalam pe¬ngertian yang dikenal saat ini kata literature ternyata mengacu pada makna segala sesuatu yang tertulis. Padahal jika kita simak lebih jauh, manifestasi makna tersebut tentu tidak dapat meng¬gambarkan sastra dalam pengertian karya fiksi.
Mursal Esten menyatakan "sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan)". Kemudian dikatakan pula bahwa sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Panuti Sudjiman mendefinisikan sastra sebagai "karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapanya". Selain itu, Ahmad Badrun berpendapat bahwa "Kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai nilai dan bersifat imajinatif". Menurut Engleton, sastra yang disebutnya "karya tulisan yang halus" (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil.
Sastra dapat digolongkan menjadi dua kelompok jenisnya, yakni sastra imajinatif dan sastra non-imajinatif. Begitu pula dalam penggunaan bahasanya, sastra imajinatif lebih menekankan penggunaan bahasa dalam artinya yang konotatif (banyak arti) dibandingkan dengan sastra non-imajinatif yang lebih menekankan pada penggunaan bahasa denotatif (tunggal arti). (Jakob Sumardjo & Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan, PT Gramedia: Jakarta 1988, hal 17)
Dengan demikian, ciri sastra imajinatif adalah: karya sastra tersebut lebih banyak bersifat khayali, menggunakan bahasa yang konotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni. Sedangkan ciri sastra non-imajinatif adalah: karya sastra tersebut lebih banyak unsur faktualnya daripada khayalinya, menggunakan bahasa yang cenderung denotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni.
SASTRA NON-IMAJINATIF    SASTRA IMAJINATIF
1.    Memenuhi estetika seni (unity, balance, harmony, dan right emphasis)
2.    Cenderung mengemukakan fakta.
3.    Bahasa cenderung denotatif.    1.    Memenuhi estetika seni (unity, balance, harmony, dan right emphasis)
2.    Cenderung khayali.
3.    Bahasa cenderung konotatif.
Dalam karya sastra Fiksi yaitu Sastra Imajinatif di bagi 3:
1.    Roman/Novel
2.    Cerpen
3.    Novelet
    Novel adalah cerita yang paling panjang dari semua cerita. Dalam arti luas
novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana cerita yang beragam pula.
Istilah novel sama dengan istilah roman. Kata novel berasal dari bahasa Italia yang kemudian berkenbang di Inggris dan Amerika Serikat. Sedang istilah roman berasal dari genre romance dari Abad pertengahan yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan. Istilah roman berkembang di Jerman, Belanda, Prancis, dan bagian-bagian Eropa daratan lain. (Jakob Sumardjo & Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan, PT Gramedia: Jakarta 1988, hal 29.)
    Cerita pendek adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Kata pendek disini tidak jelas ukurannya. Ukuran pendek disini dapat diartikan sebagai: dapat dibaca sekali duduk dalam waktu satu jam. Dikatakan pendek karena genre ini hanya mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks.Cerita pendek sebenarnya berasal dari Mesir purba, sekitar 3200SM.( Usman Supendi, Serpihan Sastra dan budaya, Pustaka Latifah: Bandung ; 2008, hal 43)
Novelet adalah cerita berbentuk prosa yang panjangnya antara novel dan cerita pendek. Bentuk novelet juga sering disebut sebagai cerita pendek yang panjang saja. Beda novelet dengan cerpen adalah: novelet lebih luas cakupannya, baik dalam plot, tema, dan unsure-unsur yang lain. Beda novelet dengan novel adalah: bahwa novelet lebih pendek dari novel dan dimaksudkan untuk dibaca dalam sekali duduk untuk mencapai efek tunggal bagi pembacanya.
Jenis sastra non-imajinatif terdiri dari karya-karya yang berbentuk esei, kritik, biografi, otobiografi, dan sejarah. Dalam jenis karya sastra non-imajinatif ini kadang-kadang dimasukkan pula jenis memoar, catatan harian, dan surat-surat.
a)    Esai Esei adalah karangan pendek tentang sesuatu fakta yang yang dikupas menurut pandangan pribadi penulisnya.
b)    Kritik adalah analisis untuk menilai sesuatu karya seni, dalam hal ini karya sastra. Jadi karya krtitik sebenarnya termasuk esei argumentasi dengan faktanya sebuah karya sastra, sebab kritik berakhir dengan sebuah kesimpulan analisis.
c)    Biografi atau riwayat hidup adalah cerita tentang hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain (sastrawan).
d)    Otobiografi adalah biografi yang ditulis oleh tokohnya sendiri, atau kadang-kadang ditulis oleh orang lain atas penuturan dan sepengetahuan tokohnya
e)    Sejarah adalah cerita tentang zaman lampau sesuatu masyarakat berdasarkan sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis.
f)    Memoir pada dasarnya adalah otobiografi, yakni riwayat yang ditulis oleh tokohnya sendiri
g)    Catatan harian adalah catatan tentang dirinya atau lingkungan hidupnya yang ditulis secara teratur.
h)    Surat tokoh tertentu untuk orang lain dapat dinilai sebagai karya sastra karena kualitas yang sama seperti terdapat dalam catatan harian. Namun genre sastra non-imajinatif ini belum berkembang dengan baik di Indonesia, sehingga adanya genre tersebut kurang dikenal sebagai bagian dari sastra. (Jakob Sumardjo & Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan, PT Gramedia: Jakarta 1988, hal 19.)

Makalah Macam-Macam Metode Kritik Sastra

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam dunia akademik, istilah kritik sering sekali bersandingan dengan seni baik itu seni sastra, seni rupa, seni pertunjukan dan seni film. Kritik sastra khususnya berfungsi sebagai penilai atau judgement dalam menentukan nilai (baik, cukup, kurang) sebuah karya sastra. Kritik sastra juga memperbanyak pengetahuan dan pemahaman publik terhadap karya sastra.
Bagi pembaca, kritik sastra berfungsi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
1.    Membantu pembaca yang kesulitan memahami karya sastra.
2.    Membantu pembaca memilih yang terbaik dari sejumlah alternatif bacaan.
3.    Membantu pembaca menilai sebuah karya sastra.
Kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial sangat dibutuhkan untuk memahami sebuah karya sastra. Dengan kedua hal itu, kita dapat menyadari bahwa hidup itu sangatlah kompleks sehingga kita semakin menghargai terhadap perbedaan.
Dengan demikian, kritik sastra sangat diperlukan untuk membantu perkembangan sastra itu sendiri. Namun, dalam dunia sastra terdapat banyak sekali karya yang berbeda jenis ataupun bentuknya, seperti puisi, sajak, cerpen, novel, drama, dan yang lain sebagainya membutuhkan media kritik yang berbeda-beda. Tidak hanya di setiap jenis atau bentuk karya sastra, dalam satu jenis karya sastra pun diperlukan beberapa metode kritik. Ini dimaksudkan untuk mengetahui secara benar nilai sastra tersebut.
Di dalam makalah ini, penulis akan memaparkan secara ringkas tentang macam-macam metode kritk sastra. Seluruh metode ini sangat bermanfaat bagi perkembangan sastra itu sendiri, untuk mengetahui mutu dan nilai sastra, dan untuk mendorong semangat emosional sastrawan, dalam hal ini pembuat karya sastra untuk membuat karya yang lebih baik lagi.
B.    Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini dimaksudkan sebagai salah satu interpretasi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab dalam menerima mata kuliah Naqd Adab II (Kritik Sastra). Selain itu, penjelasan ringkas tentang macam-macam metode kritik sastra ini berusaha memberikan dorongan kepada peminat dan penikmat sastra untuk mengetahui sebebarapa banyak pendekatan yang dilakukan kritik untuk meningkatkan nilai sebuah karya sastra.
Untuk mengetahui nilai sebuah karya sastra dan pengakuan masyarakat peminat sastra terhadap karya sastra itu, sangatlah diperlukan bebarapa metode atau pendekatan kritik. Dalam karya sastra, sebagai contoh puisi, yang memiliki bahasa fiksi yang sangat kuat sehingga tidak cukup dimengerti dengan pemikiran logika yang sederhana. Dibutuhkan daya imajinasi atau daya khayal untuk menembus bahasa yang disampaikan para pujangga dan atau penyair dan akhirnya dapat menyentuh makna yang sesungguhnya meskipun makna itu hanya bersifat subjektif.

BAB II
MACAM-MACAM METODE KRITIK SASTRA

Sebagaimana uraian pada bab pertama, pakar kritik sastra membagi kritik sastara menjadi lima metode pendekatan, dan metode pendekatan itu didasari oleh subjektivitas kritikus sastra (minat, latar belakang, dan kepakaran), adapun pendekatan kritik sastra yang lima itu yaitu, metode kritik sastra formalis, metode kritik respon pembaca, metode kritik feminis, metode kritik sosiologis, dan mentode kritik psikoanalisis.
A.    Metode Pendekatan Kritik Sastra Formalis
Formalisme, atau yang oleh tokoh utamanya dinamakan “metode formal” (Formal’ njy metod) adalah aliran kritik sastra yang timbul di Rusia sebagai reaksi terhadap aliran positifisme abad ke-19 khususnya yang berhubungan erat dengan puisi moderen Rusia  yang beraliran futurisme.
Secara definitif kritik sastra Formalisme adala aliran kritik sastra yang lebih mementingkan pola-pola bunyi dan bentuk formal kata atau dengan kata lain, karya sebagai struktur telah menjadi sasaran ilmu sastra. Sesuatu yang menarik dari hasil penelitian mereka adalah perhatian terhadap apa yang dianggap khas dalam sebuah karya sastra, yang mereka sebut literariness, dan usaha membebaskan ilmu sastra dari kekangan ilmu lain, misalnya psikologi, sejarah dan telaah kebudayaan.
Gerakan formalisme ini juga dikembangkan dalam metode penilitan bahasa yang dikemukakan oleh Saussure. Para formalis menampilkan percobaan sistematis untuk meletakkan studi sastra secara khusus. Bahasa puisi (tertulis) merupakan objek utama dari pendekatan kritik sastra formalis. Puisi dijadikan sebagai bentuk bahasa yang khas melalui penyimpangan dan distorsi bahasa sehari-hari (defamiliarisasi).
Gerakan formalis, memang tidak dapat disangkal, secara tidak langsung telah menorehkan garis demarkasi terhadap bahasa prosa yang sebenarnya juga termasuk dalam studi sastra. Bagi para Formalis, prosa menjadi the other sehingga pengertian mengenai fiksi yang sesungguhnya terpusat dalam istilah defamiliarisasi atas bahasa sehari-hari. Hal demikian dapat dipahami karena sejak timbulnya pemberontakan kaum Bolsevik di Rusia, bahasa yang terdapat dalam prosa menjadi stimulus dan kendaraan propaganda yang paling efektif untuk membuat massa bergerak sesuai kebijakan yang telah ditentukan. Bagi para Formalis, bahasa demikian jelas menjauhkan orang dari imajinasi dan penafsiran yang terus terbuka.
Dari sejarah perkembangan bahasa tulis, keberadaan bahasa fiksi (yang tertulis) sudah teruji. Inilah yang menjadi salah satu pangkal pemikiran para poststrukturalis seperti Barthes atau Derrida untuk memahami bahasa tulis sebagai sebuah teks yang berjejak bukan hanya dari sisi kontinuitasnya dengan beberapa momen, tetapi juga bahkan dari sisi diskontinuitasnya. Hal ini berarti bahwa bahasa tulis pun tidak selalu merepresentasikan sebuah fakta yang juga terbentuk dalam bahasa sehari-hari berdasarkan konvensi atau kebiasaan.
B.    Metode Pendekatan Kritik Sastra Respon Pembaca
Metode pendekatan ini dipusatkan kepada respon dan timbal balik dari pembaca, dalam hal ini peminat dan penikmat karya sastra. Dilihat dari karakter pembaca merespon sebuah karya sastra, maka mereka dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pembaca gelisah dan pembaca pasrah.
1.    Pembaca Gelisah
Pembaca gelisah adalah publik pembaca sebagai penikmat karya sastra apa adanya dan tak mau ambil pusing tentang sastra. Mereka pasrah dininabobokan pengarang, sang diktator. Yang disebut terakhir adalah penikmat sekaligus pemikir serius. Fungsinya mulia, yakni membisiki pekarya sastra agar karyanya lebih berbobot sehingga lebih memukau pembaca. Kritik sastra adalah studi, diskusi, evaluasi, dan interpretasi atas karya sastra. Kritik sastra lantang bicara, sedangkan puisi, cerpen, dan novel seperti halnya arca diam membisu. Kritik sastra mengartikulasikan kebisuan ini.
Bagi peminat sastra, kritik sastra membantu mereka membangun interpretasi sendiri terhadap karya dengan bertambahnya sudut pandang. Agar memiliki satu interpretasi yang mantap, mereka memerlukan berbagai interpretasi. Sebuah karya mungkin dikritik berkali-kali. Beberapa kritik mungkin lebih mencerdaskan dari kritik lainnya. Maka lahirlah kritik atas kritik. Lagi-lagi di sini bermain kuasa subjektivitas. Subjektivitas pembaca menentukan penilaian atas sebuah kritik. Kritik itu sendiri refleksi subjektivitas kritikus terhadap karya. Dan karya yang dikritik pun cerminan subjektivitas penulisnya.
2.    Pembaca Pasrah
Membangun keinginan seseoroang agar tertarik pada sastra adalah panggilan jiwa untuk membaca sebagai pemuas dahaga psikologis. Artinya, pengajaran sastra di sekolah mesti berbeda dari perkuliahan sastra di universitas. Tidaklah tepat siswa ditakut-takuti oleh monster berupa teori-teori dan istilah-istilah teknis sastra yang dihafal dan diuji benar-salah. Pengajaran sastra yang berpihak pada estetika (bukannya efferent) adalah medium untuk menanamkan demokrasi lewat interpretasi liar dan apresiasi jujur.
Sastra berhubungan dengan pengarang, karya sastra, dan pembaca. Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan karena masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Tanpa pengarang tidak akan ada karya sastra, dan tanpa pembaca karya sastra tidak ada artinya. Pembaca dalam memahami dan memaknai suatu karya sastra akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan pembaca yang berbeda. Segers (dalam Pradopo, 1995:208) mengatakan cakrawala harapan pembaca ditentukan oleh tiga kriteria, yaitu (1) norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca, (2) pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya, dan (3) pertentangan antara fiksi dan kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk memahami, baik dalam horizon sempit dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon luas dari pengetahuannya tentang kehidupan
Pembaca  sebagai pemberi makna terhadap suatu karya sastra dapat dibagi atas beberapa tipe, yaitu the real reader (pembaca yang sebenarnya). Pembaca jenis ini dapat diketahui melalui reaksi-reaksi yang terdokumentasi. Tipe kedua disebut hypothetical reader (pembaca hipotesis). Pembaca ini berada di atas semua kemungkinan aktualisasi teks yang mungkin telah diperhitungkan. Pembaca tipe ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu contemporary reader (pembaca kontemporer atau pembaca masa kini) dan ideal reader (pembaca idial).
1.    The Real Rreader  (Pembaca yang Sebenarnya)
Pembaca tipe ini muncul dalam menganalisis pengkajian sejarah tanggapan-tanggapan pembaca, yakni ketika perhatian studi sastra dipusatkan pada cara karya sastra diterima oleh masyarakat yang membaca secara khusus. Penilaian-penilainan apapun mengenai karya sastra juga akan mencerminkan berbagai sikap dan norma pembaca sehingga karya sastra dianggap cermin kode kultural yang mengkondisikan penilainan-penilaian tersebut.
Rekonstruksi terhadap pembaca yang sebenarnya ini tentu saja tergantung pada kelangsungan (hidup) dokumen-dokumen masa kini. Sebagai konsekwensinya, rekonstruksi tersebut sering sangat tergantung pada karya itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah apakah suatu rekonstruksi berkaitan dengan pembaca sebenarnya pada masa itu atau secara sederhana mengedepankan peran pembaca dengan berasumsi apa yang diharapkan pengarang.
2.    Hypothetical Reader (Pembaca Hipotesis)
a.    Contemporary Reader (Pembaca Kontemporer)
Pembaca kontemporer memiliki tiga tipe, yaitu  ril, historis, dan hipotesis. Yang ril dan hipotesis tergambar dari keberadaan dokumen-dokumen, sedangkan yang hipotesis dari pengetahuan sosial, historis suatu waktu, dan peran pembaca yang tersimpan dalam teks.
b.    Ideal Reader (Pembaca Idial)
Sulit menunjukkan secara tepat dari dan di mana pembaca idial tergambar. Walaupun banyak yang dapat dikatakan untuk mengklaim bahwa pembaca idial cenderung muncul dari otak filolog atau pengkritik sendiri. Meskipun penilaian pengkritik berhadapan dengannya, ia tidak lebih dari seorang pembaca terpelajar.
Seorang pembaca idial harus memiliki sebuah kode yang identik dengan kode pengarang. Para pengarang bagaimanapun secara umum mengkodekan kembali kode-kode umum (yang berlaku) di dalam karya sastra mereka dan dengan demikian, pembaca idial akan dapat memperhatikan berdasarkan proses tersebut. Jika hal ini terjadi, komunikasi akan menjadi sangat berlebihan karena seseorang hanya mengkomunikasikan yang belum dibagi oleh pengirim dan penerima.
Pikiran bahwa pengarang sendiri menjadi pembaca idialnya sendiri seringkali diruntuhkan oleh pernyataan-pernyataan para penulis yang mereka buat atas karya-karya mereka sendiri. Secara umum, sebagai pembaca, mereka sangat sulit membuat pernyatan apa pun tentang dampak penggunaan teks-teks mereka sendiri. Mereka lebih suka berbicara dalam bahasa petunjuk tentang maksud-maksud mereka, strategi-strategi mereka, konstruksi-konstruksi mereka, disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang juga akan menjadi valid bagi masyarakat yang mereka arahkan.
Dalam perkembangan sekarang ini kritik sastra membagi tipe-tipe pembaca menjadi empat, yakni (1) superreader (pembaca pakar); (2) informed reader (pembaca serba tahu); (3) intended reader (pembaca harapan); (4) Implied Reader (pembaca terimplikasi). Setiap tipe pembaca membawa  terminologi khusus.
1.    Superreader (Pembaca Pakar)
Tipe pembaca ini selalu muncul bersama-sama isyarat dalam teks dan dengan demikian terbentuk melalui reaksi-reaksi umum mereka atas keberadaan satu fakta stilistik. Superreader mengobjektivasikan gaya atau fakta stilistik sebagai sebuah unsur komunikasi tambahan terhadap unsur utama bahasa. Pembaca ini memberikan bukti bahwa fakta stilistik berdiri di luar konteks sehingga mengarah kekepadatan dalam pesan yang terkodekan yang diterangkan oleh kontras intertekstual yang ditunjukkan oleh superreader.
2.    Informed Reader (Pembaca Serba Tahu)
Informed reader adalah (a) pembicara yang berkompeten terhadap bahasa di luar teks; (b) seseorang yang memiliki pengetahuan yang matang yang dibawa pendengar yang bertugas memahaminya; (c) seseorang yang memiliki kompetensi kesastraan.
3.     Intended Reader (Pembaca Harapan)
Pembaca tipe ini merekonstruksikan pikiran pembaca yang ada dalam pikiran pengarang. Pembaca tipe ini bersifat fiktif. Dengan ciri fiktif ini memungkinkannya merekonstruksikan masyarakat yang ingin dituju oleh pengarang. Pembaca berusaha menandai posisi dan sikap tertentu dalam teks, tetapi belum identik dengan peran pembaca.
4.    Implied Reader (Pembaca Terimplikasi)
Pembaca tipe ini memiliki konsep yang benar-benar tumbuh dari srtuktur teks dan merupakan sebuah konstruksi serta tidak dapat diidentifikasi dengan pembaca nyata. Pembaca merupakan suatu struktur tekstual yang mengantisipasi kehadiran seorang penerima tanpa perlu menentukan siapa dia. Pembaca berusaha memahami teks dari struktur-struktur teks yang ada. Dengan demikian, tidak menjadi masalah siapa pembaca itu, tetapi yang jelas pembaca tipe ini diberi tawaran sebuah peran utama untuk dimainkan, yakni peran pembaca sebagai sebuah struktur tekstual dan peran pembaca sebagai act (tindakan/aturan) yang terstruktur.


C.    Metode Pendekatan Kritik Sastra Feminis
Abad 20, seperti pernah dinyatakan Noami Wolf, seorang feminis dari Amerika, sebagai era baru bagi perempuan, atau ia menyebutnya era gegar gender, era kebangkitan perempuan. Gaung kebangkitan itu memang terus berkembang hingga sekarang. Di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tsb. di berbagai bidang. Termasuk di bidang sastra.
Kritik sastra feminis secara teknis menerapkan berbagai pendekatan yang ada dalam kritik sastra, namun ia melakukan reinterpretasi global terhadap semua pendekatan itu. Kritik yang mula-mula berkembang di Prancis (Eropa), Amerika, dan Australia ini merupakan sebuah pendirian yang revolusioner yang memasukkan pandangan dan kesadaran feminisme (pandangan yang mempertanyakan dan menggugat ketidakadilan yang (terutama) dialami perempuan yang diakibatkan sistem patriarkhi) di dalam kajian-kajian kesusastraan.
Dengan kritik itu diharapkan penyusunan sejarah, penilaian terhadap teks-teks yang ditulis perempuan menjadi lebih adil dan proporsional. Oleh karena itu, seperti dijelaskan Djajanegara (2000), terdapat dua fokus di dalam kritik ini. Fokus pertama adalah pengkajian ulang sejarah kesusastraan, termasuk mengkaji lagi kanon-kanon yang sudah lama diterima dan dipelajari dari generasi ke generasi dengan tinjauan feminis dan menggali kembali karya-karya dan penulis-penulis dari kalangan perempuan yang ter(di)pendam selama ini.
Fokus kedua, mengkaji kembali teori-teori dan pendekatan tentang sastra dan karya sastra yang ada selama ini dan tentang watak serta pengalaman manusia yang ditulis dan dijelaskan dalam sastra. Selama ini para feminis melihat ada pengabaian terhadap pengalaman-pengalaman perempuan. Di sini, kritik sastra feminis menyediakan konteks bagi penulis perempuan yang mendukung mereka agar mampu mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pikiran yang selama ini diredam.
Akan tetapi, perlu dicatat, seperti gerakan/ideologi feminis itu sendiri yang tidak monolitik (terdiri atas berbagai aliran), kritik sastra feminis yang memang tumbuh dari gerakan ini, juga tidak monolitik. Feminisme terdiri atas aliran-aliran liberalis, marxis, sosialis, eksistensialis, psikoanalitik, radikal, postmodern, dll. yang masing-masing memiliki perbedaan pandangan/penekanan dan tak jarang bertentangan. Ada feminisme yang sangat maskulin, ada yang anti-maskulin, ada pula yang ingin menjadi partner dengan maskulinitas.
Hal ini berpengaruh pula di dalam cara memandang, menilai, dan menetapkan kriteria-kriteria kesusastraan yang sesuai dengan pandangan feminisme. Tokoh-tokoh seperti Helena Cixous, Virginia Wolf, Kate Millet, dll. yang merupakan kritikus sastra feminis berasal dari aliran yang berbeda. Cixous misalnya, penganut feminisme postmodern, Wolf adalah seorang feminis marxis, dan Millet seorang feminis radikal. Keberagaman itu dapat saling mengisi, tapi dapat bertentangan dalam pengejawantahannya dalam kritik sastra feminis.
Berdasarkan keberagaman ini, dalam kritik sastra feminis ditemukan kritik gynocritics, kritik sastra feminis ideologis, marxis, psikoanalitik, dll. Gynocritics melakukan kajian terhadap sejarah karya sastra perempuan, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan wanita yang lebih menekanan perbedaannya dengan tulisan laki-laki. kritik sastra feminis Ideologis memusatkan perhatian pada cara menafsirkan teks yang melibatkan pembaca perempuan. Yang dikaji adalah citra/stereotip perempuan dan meneliti kesalahpahaman mengenai perempuan. kritik sastra feminis sosialis/marxis melihat tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastra dari sudut kelas-kelas masyarakat, dan kritik sastra feminis psikoanalitik menolak teori Sigmund Freud dalam pengkajian karya sastra. Masih banyak ragam lainnya, seperti kritik sastra feminis lesbian, dan ras (etnik).
Feminisme dan kritik sastra feminis membawa angin segar dalam perkembangan kesusastraan. Di berbagai wilayah, berkat usaha para kritikus feminis, para perempuan dan karyanya mulai dipertimbangkan dengan adil. Banyak karya perempuan yang awalnya oleh para kritikus tradisional dianggap bukan kanon, setelah melalui pengkajian dari sudut feminisme diterima masyarakat sebagai kanon. Karya Mary Ann Cross (George Eliot) di Inggris adalah salah satu contohnya.
Angin segar itu misalnya terasa dari kajian-kajian gynocritics dari berberapa kritikus sastra, antara lain oleh Korrie Layun Rampan berupa penyusunan antologi dan pengkajian karya-karya khusus perempuan yang sangat membantu penyusunan ulang sejarah kesusastraan dalam hubungannya dengan keberadaan perempuan, peningkatan pemberian kesempatan terhadap perempuan dalam kegiatan-kegiatan sastra (meski belum imbang antara laki-laki dan perempuan), dan kritik yang lebih objektif dalam melihat keunggulan karya perempuan sehingga saat ini karya perempuan diperhitungkan dan menempati kanon-kanon sastra.
Di sini pun perlu dipertanyakan mengapa kritik ini sangat jarang dipergunakan untuk menganalisis karya laki-laki. Padahal menurut sejarahnya, kritik ini juga diterapkan pada karya laki-laki untuk melihat bagaimana laki-laki mencitrakan perempuan dalam cerita-cerita rekaannya. Di Indonesia, hingga saat ini, belum ada penelitian mendalam terhadap penggambaran citra-citra perempuan dalam karya laki-laki. Yang ada selama ini baru sebatas dugaan. Kajian mendalam ke arah ini tampaknya akan bermanfaat untuk membantu penyadaran masyarakat terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Semoga kritik ini tidak hanya digunakan sebagai mode, tapi sebagai sebuah kesadaran.
D.    Metode Pendekatan Kritik Sastra Sosiologis
Pendekatan sosiologis terhadap karya sastra bertolak dari gagasan bahwa sastra merupakan  pencerminan kehidupan masarakat (sosial). Karya sastra mendapat pengaruh dari masyarakat dan memberi pengaruh terhadap masyarakat.
a.    Konsep dan kriteria
Seperti pendekatan kritik sastra yang lainnya, pendekatan sosiologis juga mempersoalkan hal-hal yang ada diluar tubuh karya sastra seperti latar belakang pengarang, pengaruh sastra terhadap masyarakat, respon pembaca, dan lain-lain. Adapun konsep dan kriteria pendekatan ini adalh senagai berikut:
1.    Dalam sejarah awal kemunculan pendekatan sosiologis memandang karya sastra sebagai cermin sejarah. Semakin banyak gejolak sosial dan dialektioka di tengah masyarakat,  sastra semakin meningkat sebagai alat perekam gejala sosial tersebut.
2.    Karya sastra merupakan medium palin epektif untuk menggerakam masyarakat dalam mewujudkan keinginan mereka. Pendekata sosiologis ini juga dinamakan realisme sosialis.
3.    Analisis sastra lebih luas tertuju pada pengarang yang mampu merekm kehidupan suatu jaman dalam karyanya.
4.    Pendekatan sosiologis juga bermanpaat untuk mengkaji latar belakang penulis, palaspah yang dianut, idiologi, pendidikan, dan visi pengarang. Pendekatan ini juga menganalisis masarakat yang digambarkan dalam karya sastra dan membandingkannya dengan masyarakat diluar karya sastra.
b.    Kekuatan dan Kelemahan
Pendekatan sosiologis memandang karya sastra sebagai produk budaya yang sangat diperlukan masyarakat. Sastra merupakam media komunikasi antara masyarakat. Kelemahan pendekatan ini antara lain : (1) Munculnya konsep sastra untuk masyarakat dan masyarakat untuk sastra. (2) Sering dijadikan sebagai alat untuk melakukan proters sosial (3) Pendekatan ini sukar dipahami apabila tidak didukung oleh ilmu sosiologi dan jiwa sosial.
E.    Metode Pendekatan Pisikologis
    Pendekatan pisikologis adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Manusia senantiasa memperhatikan prilaku yang beragam, sehingga bila kita ingin memahami manusia lebih dalam maka kita membutuhkan Pisikologi, lebih-lebih di zaman yang serba berkaitan dengan ilmu tehnologi yang canggih ini, manusia memiliki konflik kejiwaan yang yang bermula dari sikap tertentu yang akhirnya berpengaruh dalam kehidupannya.
Penjelajahan ke dalam batin atau kejiwaan untuk menetahui lebih dalam tentang seluk beluk manusia yang unik ini merupakan sesuatu yang merangsang. Banyak penulis yang berusaha mendalami masalah pisikologi seiring dengan itu banyak penelaah  atau peneliti sastra yang mencoba memahami karya sastra dengan bantuan pisikologi. Memang benar setiap permasalahan kehidupan manusia dapat dikembalikan kedalam teori-teori pisikologis.
Berangkat dari pemikiran semacam itu muncullah  pendekatan Pisikologis dalam telaah atau penelitian sastra. Para pakar pisikologis terkemuka seperti Jung, Adler, freud, dan Brill memberikan infirasi yang cukup banyak tentang pemecahan masalah  misrteri tingkah laku manusia melalui teori-teori pisikologi. Namun hanya Freud yang secara langsung berbicara tentang proses penciptaan seni sebagai akibat dari tekanan dan tinbunan masalah dibawah alam sadar yang kemudian disumlimasikan kedalam bentuk penciptaan karya seni pisikologi yang di bawa oleh Freud ini disebut pisikologianalisis yang bayank diterapkan dalam penelitian sastra lewat bpendekatan pisikologi.
a.    Konsepsi dan Kriteria Pisikoanalisis
Kritik psikoanalisis dilakukan berdasarkan psikologi yang ada dalam diri manusia. Dalam dirinya terdapat id, ego, dan super-ego yang menyebabkan manusia selalu berada dalam keadaan berperang dalam dirinya apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiganya. Akan tetapi ketiganya bekerjasama seimbang dan melahirkan watak yang wajar. Dalam metode pendekatan psikoanalisis kajian sastra yang diambil hanya bagian-bagian yang sesuai dengan teori psikoanalasis.
Berikut ini beberapa konsepsi dasar kriteria yang digunakan dalam metode pendekatan psikoanalisis:
1.    Karya sastra merupakan produk dari jiwa dan pemikiran pengarang yang berada dalam setengah sadar atau subconcius setelah mendapat bentuk yang jelas secara sadar atau concious dalam bentuk penciptaan karya sastra.
2.    Kualitas karya sastra ditentukan oleh bentuk proses penciptaan dari tingkat pertama, yaitu keadaan setengah sadar di bawah alam sadar kepada tingkat kedua, yaitu dibawah keadaan sadar.
3.    Menurut metode psikoanalisis, karya yang berkualitas adalah karya sastra yang mampu menyajikan simbol, wawasan, kepercayaan, tradisi, moral, budaya dan lain-lain.
4.    Karya sastra menurut metode psikoanalisis adalah karya sastra yang mampu menggambarkan kekalutan dan kekacauan batin manusia.
5.    Kebebasan sastrawan atau pembuat karya sastra sangat dihargai. Dia memiliki kebebasan yang istimewa, yaitu berupaya mengkongkritkan gejolak batin yang ada dalam dirinya.
b.    Metode atau Langkah
Freud mengatakan dalam teori psikoanalisisnya bahwa dalam mengarang, sastrawan diserang oleh penyakit jiwa yang disebut ‘neurosis’ bahkan sampai ‘psikosis’ seperti sakit mental. Berikut ini digambarkan metode atau langkah kerja pendekatan atau metode psikologis.
1.    Metode psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra baik segi intrinsik maupun segi ekstrinsik. Namun metode ini lebih ditekankan pada segi intrinsik sesuai dengan penokohan atau perwatakan.
2.    Segi ekstrinsik perlu dibahas yang menyangkut dengan permasalah jiwanya. Dengan memahami segi kejiwaan pengarang, akan sangat membantu dalam karakter cerita atau karya sastra yang ditulisnya.
3.    Di samping menganalisis perwatakan dalam segi psikologis, mengurai tentang tema karya sastra itu sendiri juga perlu dilakukan.
4.    Analisis dapat diteruskan kepada analisis kesan pembaca, karena karya sastra sangat berpengaruh dalam respon pembaca yang menimbulkan kesan pada pembaca dan berdampak didaktis bagi dirinya.
c.    Kekuatan dan Kelemahan Metode Psikoanalisis.
Melalui pendekatan psikologi, dapat menimbulkan kesan bahwa pendekatan ini menjurus pada pemanfaatan ilmu jiwa yang rumit, abstrak dan kompleks. Sungguh meskipun begitu, metode psikoanalisis ini memiliki kekuatan, yaitu:
1.    Sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan.
2.    Metode ini memberi timbal balik kepada penulis atau sastrawan tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya.
3.    Sangat membantu dalam menganalisis karya sastra surcalis, abstrak, atau absurd dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya sastra semacam itu.
Metode ini juga memiliki kelemahan dalam menerapkannya dalam kritik sastra. Kelemahan tersebut dapat digarisbesarkan sebagai berikut:
1.    Mengharuskan kritikus untuk mengetahui ilmu kejiwaan.
2.    Banyak hal yang abstrak yang sukar dipecahkan tentang perilaku dan motif tindakan.
3.    Sukar diketahui kaitan tindakan yang satu dengan yang lain, karena dalam cerita kadang tokoh itu ‘mati’.
4.    Tidak mudah mengetahui apakah pengalaman yang menimpa tokoh itu merupakan pengalaman pengarang langsung atau bukan.
5.    Metode ini lebih mudah jika seorang pengarang menulis jujur sesuai dengan penglaman hidup dan karakternya, karena jika pengarang tidak jujur dalam membuat karyanya, maka kajian tentang riwayat hidup pengarang pun tidak ada gunanya.
6.    Sampai saat ini teori yang dikemukakan Freud belum dapat dibuktikan secara saintifik dan masih banyak hal yang bersifat metafor dan merupakan misteri.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kritik sastra sangat bermanfaat dalam dunia sastra. Kritik sastra menjadi mediator komunikasi dan apresisasi antara pengarang dan pembaca. Dari semua itu, landasan yang diambil pun kemudian menjadi sebuah penentu, dimana dalam mencari nilai karya sastra haruslah ada satu alat yang secara menentu dan mendetail menguak semua unsur yang ada di dalam karya sastra dan unsur yang ada di luar karya sastra.
Para ahli kritik membagi beberapa metode atau pendekatan kritik sastra menjadi lima, yaitu pendekatan formalis, respon pembaca, feminis, sosiologis, dan psikoanalisis.
B.    Saran
Demikianlah makalah ini diususn dengan kemampuan yang terbatas. Namun tak ada salahnya jika kita mempelajari teori pendekatan ini lebih mendalam dan melakukan uji coba terhadap karya sastra di sekeliling kita.

DAFTAR ISI

Atar Semi, M. Pror. Drs. 1990.  Metode Penelitian Sastra. Bandung: Penerbit ANGKASA Bandung.
Fokkema, D.W. dan Elrud Kunne. 1998. Teori Sastra Abad Ke-20. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustakan Utama.
Hardiyana, Andre. 1994. Kritk Sastra; Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Purtaka Utama.
Yusuf, Suhendra. Drs. MA. 1995. Leksikon Sastra. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju.

Contoh Pembuatan Drama Kolosal

Tajuk Drama    : MELIHAT IBU DALAM MIMPI
Naskah    : Irwaninrum Dedy Mizwar
Tokoh    :
Rangga (Tokoh Utama / Peran Sebagai Pelajar)
Reno (sahabat lama Rangga)
Ibu (ibu Reno)
Bapak (bapak Reno)
Afifah/Ibu 2 (tetangga Reno)
Endra (6 tahun, anak bungsu Afifah)
Putri (9 tahun, anak ke-3 Afifah)
Rahman (11 tahun, anak ke-2 Afifah)
Surya (13 tahun, anak sulung Afifah)
Bapak tua (tetangga Reno)
Tempat    : Gang sempit di antara rumah penduduk. Pagar rumah-rumah membuat gang yang dindingnya penuh lumut hijau, sebagian pula sudah berwarna cokelat karena mati terkena sinar matahari. Rumah kecil yang di depannya ada kursi sofa bekas yang sudah robek. Rumahnya tak memiliki halaman hanya cukup untuk duduk santai menjulurkan kaki.
Rangga berjalan melewati gang rumah yang sempit. Keringat mengucur di dahinya. Sambil menggendong tas, Rangga memperhatikan orang-orang yang lewat di gang itu. Rangga berhenti sejenak. Ia mengusap keringat dengan telapak tangannya. Sebelum Rangga berbelok, ia merogoh saku celananya untuk mengambil kertas yang bertuliskan alamat rumah temannya. Ia mengerenyitkan dahinya yang lebar. Rangga melihat seorang bapak tua yang dari tadi duduk di depan rumahnya, memperhatikan gerak-gerik Rangga. Rangga mendekati bapak tersebut.
ADEGAN 1
Rangga    : “Punten, Pak! Ngiring tumaros,” (Rangga sejenak menghentikan ucapannya). “Bapak uninga alamat ieu, Pak?” (Rangga menyodorkan kertas berisi alamat rumah Reno kepada bapak tua itu).
Bapak tua    : “Oh, Jalan Sersan Bajuri no. 103!” (Bapak tua itu mengangguk-nganggukkan kepalanya sebentar). “Ujang jalan wae lurus teras belok kiri, aya bumi nu warnana koneng, tah bumina di palih kiri bumi tadi!” (dengan telunjuknya, Bapak tua itu memetakan alamat yang diberikan Rangga).
Rangga    : Haturnuhun, Pak. Mangga, Pak!(setengah membungkukkan badannya, Rangga beranjak dari hadapan bapak tua itu).
Bapak tua    : Sami-sami.
Rangga kembali memasukkan kertas itu ke saku celananya. Seraya membetulkan tas di punggunya, Rangga beranjak dari rumah Bapak tua itu. Aku datang, Reno. Ucap Rangga pada dirinya sendiri. Rangga mempercepat langkahnya, ingin cepat-cepat bertemu sahabat lamanya.
Panas matahari menyengat kulit Rangga, hingga sesekali ia mengerenyitkan dahinya. Gang yang sempit itu terlihat lengang dan pintu rumah-rumah pun tertutup. Rangga melihat warung nasi yang ditunjukkan bapak tua itu, lalu ia melirik ke rumah di sebelahnya. Langsung ia menatap tajam pintu rumah berwarna hijau itu.
ADEGAN 2
Tempat    : Rumah cukup sederhana dengan penuh tanaman dan bunga di dipannya. Meski halamannya tak luas, tapi terlihat apik dan rapi. Di teras rumah itu ada kursi kayu. Di samping kanan rumah itu juga banyak bibit tanaman dan bunga sedangkan di samping kirinya hanya ada tembok dan pagar bambu pembatas dengan rumah disampingnya.
Rangga    : “Assalaamu’alaikum!”(sambil memukulkan gembok yang tergantung di pagar besi rumah itu. Tak ada sahutan dari dalam rumah). “Apa lagi pada tidur siang ya?”(Rangga menoleh ke samping kanan dan kiri rumah, kemudian ia mengucapkan salam lagi. Seorang wanita membuka pintu rumahnya. Sekilas ia menatap wajah Rangga. Sepertinya ini ibunya Reno). “Assalamualaikum!”(Rangga mengucap salam sambil setengah membungkukkan badannya)
Ibu         : “Waalikum salam!”(Ibu itu langsung menghampiri Rangga)
Rangga    : “Ibu, leres ieu bumina  Reno?”
Ibu        : “Muhun, leres!”(ia membukakan pagar)
Rangga    : “Abdi Rangga, rerencangan Reno kapungkur waktos SMA. Renona aya, Bu?”
Ibu        : “Aya, mangga ka lebet!”
Ibu itu pergi ke dalam rumah lalu memanggil Reno. Rangga menunggu di depan rumah sambil membuka sepatunya. Reno keluar dari rumahnya, wajahnya kusut. Sepertinya ia baru bangun dari tidur.
Reno        : “Rangga! Kamana wae kamu teh?”(Reno menghampiri Rangga dan memeluknya)
Mereka berdua bercengkrama dan saling menanyakan kabar. Rangga duduk di kursi sofa, sambil meminum air dingin yang disiapkan ibunya Reno.
Selepas shalat asar, Reno dan Rangga duduk di kursi depan rumah. Suasana cukup ramai menjelang senja. Orang-orang juga melakukakan hal yang sama, duduk di depan rumah sambil minum kopi atau teh.
ADEGAN 3
Tempat    : Di depan rumah Reno, di sana terlihat rumah tetangga disamping dan didepan rumah. Jalan yang sempit itu banyak di lalui orang. Ada yang pergi ke sawah atau ladang, ada yang pergi bekerja di pabrik, sekolah, mengajar atau hanya mampir ke rumah tetangga aja. Mesjid kecil yang persis mushola sederhana. Jendela mesjid itu belum terpasang kaca karena belum rampung pembangunannya. Lampu di dalam mesjid itu terlihat suram dan kecil, meski lampu neon tapi tak menerangi seluruh pojok mesjid.
Rangga    : “Bapak kamu kemana, Ren?”(seraya menyeruput teh di atas meja kayu di sampingnya)
Reno        : “Masih di kebun, sebelum maghrib juga pulang”
Belum lama mereka berbincang, seorang bapak memasuki pekarangan rumah Reno sambil memikul cangkul di pundaknya. Reno bangkit dari duduknya kemudian memperkenalkan Rangga pada bapaknya.
Bapak    : “Ini Rangga teh? yang sering kamu ceritain itu?”
Reno        : “Iya, Pak!”
Tak terasa suara beduk maghirb menyahut dari kejauhan.
Rangga    : “Sekarang kegiatan kamu apa aja?”
Reno        : “Nggak ada, aku cuma bantu Ibu sama Bapak di rumah. Aku juga pengen kuliah sih, tapi orang tuaku nggak mampu ngebiayain aku”
Mereka berdua berbelok menelusuri gang dari rumah ke rumah hingga tiba di mesjid. Dengan khusyuk dan tertib, mereka melaksanakan shalat berjama’ah. Baru kali ini Rangga shalat di daerah perkampungan. Masyarakatnya ramah dan terlihat rasa kebersamaan mereka.
ADEGAN 4
Tempat    : Ruang makan. Meja makan segi empat panjang dari kayu yang tidak beralaskan taplak. Lampu yang tergantung di atas meja itu seperti lampu hias jaman dulu berwarna coklat tua keemasan. Di sebelah meja hanya ada lemari tempat menyimpan piring dan gelas serta alat memasak lainnya.
Ibu        : “Kamu kuliah di mana, Ga?”(sambil menyimpa piring di hadapan Rangga)
Rangga    : “Di UNB, Bu!”(Rangga menyedok nasi di hadapannya, lalu menyimpan goreng ikan asin di atas piringnya).
Bapak    : “Jurusan naon?”
Rangga    : “Sosiologi, Pak”(Rangga menikmati santapan makan malam itu dengan lahapnya)
Bapak    : “Nanti jadi Sosiolog atuh!”
Rangga    : “Mudah-mudahan aja, Pak!”
Reno        : “Sekarang mah udah jadi mahasiswa, makin pinter aja. Dulu mah Bu, Pak, Rangga teh kucel, caludih. Sekarang mah udah ganteng.”(Reno tersenyum sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya).
Rangga    : “Ah bisa wae!”(Rangga menyikut dada Reno dengan tangannya).
ADEGAN 5
Tempat    : Kamar tidur Reno yang suram cahaya lampu bohlam di atasnya, tapi ada meja belajar dan lemari pakaian milik Reno. Atap langit-langit kamar itu ada sedikit berwarna hitam sisa air hujan yang meresap. Di samping kiri kamar ada jendela kecil yang langsung menempel dengan tembok pagar pembatas rumah Reno dengan rumah tetangga.
Tubuh Rangga terasa lelah, rasa kantuk mulai meyelimutinya. Baru saja ia membaringkan tubuhnya, Rangga mendengar suara jeritan anak kecil di samping rumah disusul suara bentakan ibunya. Mungkin di rumah tetangga Reno.
Anak kecil    : “Aaaw…ampun mak, ampuuun!”(anak itu menangis keras)
Ibu 2        : “Dasar siah, badeug sia jadi budak! Geura sare ka ditu!”
Rangga    : “Ren, siapa itu?”(Rangga terperanjat dari tidurnya)
Reno        : “Tetangga. Keluarga itu mah udah biasa ribut”(Reno membuka matanya yang sudah terlihat merah)
Rangga    : “Ribut kenapa?”
Reno        : “Udah atuh, Ga! Itu mah urusan keluarga mereka, kita mah nggak bisa ikut campur!”
Rangga tak bisa banyak bertanya lagi. Reno sudah tertidur pulas. Pikarnnya masih terganggu jeritan anak kecil tadi. Ia tak bisa memejamkan matanya. Kesedihan pun terlihat di matanya. Rangga teringat masa kecilnya yang menyedihkan.
ADEGAN 6
Tempat    : Di depan rumah Reno
Pagi-pagi sekali Rangga sudah bangkit dari tidurnya, lalu sembahyang subuh bersama keluarga Reno. Pelan-pelan matahari menerangi langit yang gelap. Reno dan Rangga duduk di depan rumah sambil menikmati kopi dan pisang goreng hangat buatan ibu Reno.
Reno        : “Kuliah kamu lagi libur gitu?”(seraya bangkit memeriksa tanaman hias di depan rumahnya)
Rangga    : “Iya, kebetulan juga aku lagi nggak ada kegiatan. Jadi, aku sempetin deh maen ke sini”(lalu Rangga menyerobot pisang goreng di depannya. Belum selesai ia mengunyah pisang goreng itu, Rangga melihat seorang ibu, tetangga Reno keluar dari rumahnya diikuti oleh anaknya).
Anak        : “Mak Endra ikut, Mak!”(ia meraih tangan ibunya yang tak sekilas pun melihat wajahnya)
Ibu 2        : “Cicing di dieu emak rek ka pasar!”(tangannya mendorong kepala anak kecil hingga terbentur pintu yang sebagian dari kaca, lalu ia terjatuh menangis)
Rangga menatap tajam ibu itu, ia terhenyak seperti orang yang sedang dicekik. Wajah itu persis seperti wajah ibunya. Dengan jelas ia bisa melihat karena tak seberapa jauh, hanya terhalangi pagar bambu yang pendek. Rangga sedikit memanjangkan lehernya berusaha melihat keadaan anak tersebut.
Rangga    : “Ren, siapa nama anak kecil itu?”(matanya masih melirik ke arah rumah tetangga Reno. Kemudian Rangga duduk tenang lagi dan meminum kopi manis asli buatan orang-orang kampung).
Reno        : “Endra”(ia bangkit dari duduknya, mengambil cangkul di samping rumah lalu membersihkan mata cangkul yang pasih penuh tanah itu dengan kayu).
Rangga    : “Trus kakaknya yang cewek? Aku juga ngedenger suara dua anak laki-laki lagi di dalam rumah itu, nama mereka siapa?”(Rangga ikut berdiri sambil melipat tangannya. Rangga sedikit mencondongkan badannya ke arah pintu rumah itu, lalu ia mendekati Reno sambil melihat pekerjaan Reno).
Reno        : “Itu Putri, kakak ke tiga anak kecil tadi, lalu kakak keduanya, namanya Rahman, kakak pertama mereka namanya Surya”(Rangga mengangguk-ngangguk sambil mengikuti Reno berjalan ke pinggir rumah. Lalu mereka duduk santai lagi)
Rangga duduk kembali di kursi kayu. Pikirannya teringat jeritan dan tangisan anak itu, ia teringat waktu kecilnya. Ketika ia ingin dimanja, bermain dengan mainan dan disayang, semuanya tak ada dalam masa kecilnya.
Rangga    : “Kalo ibu itu, siapa namanya Ren?
Reno        : “Afifah”
Rangga semakin terhenyak mendengar nama itu diucapkan reno. Itu kan nama ibuku!? Rangga tak habis pikir apa yang terjadi pada dirinya, kemudian ia masuk ke dalam rumah. Rangga membaringkan tubuhnya. Itu kan masalah keluarga orang, kenapa aku harus ikut campur? Kata Rangga dalam hati. Lagian aku ke sini mau liburan bukan buat ngurusin keluarga orang. Rangga bangkit lagi dari tidurnya, menghampiri Reno yang dari tadi duduk di depan rumahnya. Rangga tak mendengar suara anak kecil itu menjerit atau menangis lagi. Bahkan ia mendengar anak-anak tetangga Reno itu sedang bercanda berkelakar berbarengan dengan suara televisi yang bergaung keras terdengar sampai luar rumah.
Rangga    : “Kamu nggak ikut bapak kamu ke kebun?”(Rangga heran, Reno diam di rumah saja padahal tadi pagi Rangga melihat bapaknya Reno hendak pergi ke kebun. Rangga menghabiskan kopi di meja kecil itu lalu disantapnya pisang goreng yang sudah dingin).
Reno        : “Hari ini Bapak menyuruhku jangan dulu kerja, katanya sih suruh nemenin kamu dulu”(setelah selesai menyiram bibit tanaman dan bunga-bunga, Reno mencuci tangannya dan duduk di samping Rangga. Lalu ia menyeruput lagi kopi manis yang sudah dingin di sampingnya dan menghabiskan sisa pisang goreng di atas piring.